Bujang Rantau

Mari kita mengkaji rantau lebih dalam bersama kami di Blog Ini. Tidak usah sungkan, rantau bisa kita taklukan jika kita bersama.

Recent Posts

Sarjana Rantau : Kaya atau Mengabdi

Tidak ada komentar

Kegembiraan di hari wisuda memang menjadi salah satu titik yang ingin ditempuh oleh anak rantau yang memutuskan untuk kuliah di tanah rantau yang mereka tuju. Wisuda menjadi titik balik kekejaman dunia ini mulai muncul, ada langkah-langkah yang akan kamu hadapi salah satunya cari kerja. Akan timbul pertanyaan dimana dan bagaimana ? Mempertimbangkan akan dimana berkerja merupakan PR baru dalam kehidupanmu. 

Eforia Wisuda

Muncul lagi pilihan, memperkaya diri dan pengalaman di rantau  atau pulang untuk mengabdi ke kampung halaman ?

Ingin hati semua para perantau adalah untuk mengabdi kembali ke kampung halaman, tapi apa daya lapangan kerja yang ada tidak sesuai dengan ilmu yang didapatkan sewaktu kuliah, kalaupun ada penghasilan yang di tawarkan juga tidak mencukupi. 

Mendapatkan gelar sarjana di universitas kenamaanpun tidak serta merta membuat kamu mendapatkan jaminan untuk langsung mendapatkan kerja. Memang sulit mulanya eforia wisuda masih terasa, kebangaan universitas masih terasa, yang kamu harus lakukan sebenarnya adalah bangun dan mulai menatap dunia yang akan di hadapi.

Beban Yang Harus di Hadapi

Beban sebenarnya adalah jika tidak langsung mendapatkan pekerjaan, kembali teringat orangtua yang sudah mengeluarkan banyak biaya untuk biaya pendidikanmu semasa kuliah. Siapa yang tidak ingin meringankan beban orang tua ? beban ini semakin terasa apabila kamu masih memiliki adik-adik yang sedang di masa Pendidikan.

Terpontang-panting kesana kemari mencari pekerjaan tidak juga mudah didapatkan, terbersit keinginan untuk menjadi wirausaha. Memang, menjadi pengusaha tidak butuh apa apa selain keinginan dan kreatifitas yang lebih, tidak butuh ijazah. Kenapa tidak pulang saja ? bangun desa kelahiranmu dengan segudang kreatifitas dan ilmu yang kamu miliki di tanah rantau. Tetapi, kamu harus melihat sejauh mana kamu bisa bertahan, apakah usahamu bisa menjamin kehidupanmu tanpa membebani orang tua lagi ? toh, ilmu dan ijazah tidak serta merta membuatmu ahli di usaha tersebut. 

Ilustrasi Wirausaha

Bertahan di Rantau ? Atau Kerja Apa Adanya Demi Calonmu ?

Cinta yang Menunggu
Masalah lain yang di hadapi oleh sarjana rantau yaitu cinta. Selama menempuh Pendidikan mempertahankan hubungan dengan kekasih, melawan berbagai macam rintangan yang datang. Selalu berjanji untuk kembali ke rumah, untuk kembali menjalin hubungan tidak terpisahkan lagi oleh lautan yang luas. 

Berat memang, masalah cinta tidak bisa disepelekan dengan mudah. Dia yang selalu mensupportmu didalam mengerjakan tugas-tugas kuliah, membantu menemanimu dalam menyelesaikan skripsi, walaupun dalam Batasan line telepon. 

Mengabdi di kampung halaman, dan memilih untuk menjadi pegawai honor di instasi pemerintah merupakan hal yang bisa kamu pilih. Demi cinta yang sudah kamu janjikan. Pilihan ini harus kamu ambil hingga mendapatkan sesuatu yang layak.

Kembali Ke Rantau

Jika pilihanmu tetap di rantau demi mewujudkan kehidupan yang layak untuk calonmu kamu bisa mencoba kembali mandiri di kota orang. Bertahan 1-2 Tahun lagi tidaklah terlalu lama, bahkan bisa jadi titik balik untukmu memperlihatkan kamu layak untuk dia. 

Fokus Terhadap Potensi Mu
Hidup di kota orang kamu harus memulai fokus mu, membuat setidaknya beberapa kegiatan zaman kuliah yang penuh hura-hura adalah pilihan tepat. Menambah pengalaman di bidang yang sedang kamu geluti di perusahaan yang memperkerjakanmu, berusaha mengembangkan potensi diri kita, raih prestasi di kantor dengan cara yang masuk akal, tidak usah mempersulit rekan kerja, tidak usah memperlihatkan banyak muka ke pimpinan. 

-------------
Apapun pilihan yang akan dipilih, itu kembali ke masing - masing personal kita. Setiap pilihan ada resiko, setiap sikap ada tanggung jawab, tetap bekerja keras dengan pilihan yang kamu pilih. 
Menyerah di Tanah Rantau bukan Solusimu. 
Tulis Komentarmu, Bersama Taklukkan Rantau.
 
Bandung, September 2017
Alfariqi Analdi
 
 

Merantau, Perjuangan Menyelaraskan Cinta Dan Cita

Tidak ada komentar

Merantau, kata yang tidak asing didengar dan sangat sulit terpisahkan jika kita membicarakan “Orang Minang” Selain dari pembahasan mengenai kulinernya spectakuler yang sudah terkenal ke seluruh penjuru negeri, ataupun adat dan budaya yang khas, serta garis keturunan yang spesial di Indonesia yang konon katanya hanya ada di Ranah Minang.
Pola hidup merantau masyarakat dari salah satu etnis terbesar di barat pulau Sumatra ini seperti sudah menjadi stigma yang melekat erat dalam kehidupan masyarakatnya, atau bahkan mungkin sudah menyatu dengan aliran darah pada setiap pembuluh darah masyarakatnya.
Merantau memang suatu kata yang terkadang berat untuk dilaksanakan, dengan merantau, kita harus keluar dari zona nyaman yang kita punya selama ini dan kita juga harus sudah siap untuk terjadinya perang batin yang susah untuk ditolak  yaitu dilema antara cinta dan cita.
Hidup memang tentang pilihan bukan? Pastikan pilihan yang sudah kita ambil memiliki tujuan, dan setelah yakin dengan pilihan dan tujuan, jangan pernah takut untuk menghadapi segala resikonya. Bicara mengenai merantau dan Cinta, Ya cinta, kita harus siap berpisah dengan orang-orang tersayang demi mewujudkan cita-cita untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Entah itu karena perbedaan jarak atau mungkin perbedaan waktu.


  Petualangan saya menapaki tanah rantau pun dimulai sejak digenggamnya ijazah perguruan tinggi di tangan,  tanah rantau yang pertama saya jajaki adalah sebuah kota gemerlap, dan penuh kebebasan, Kota Batam, kota dipulau kecil ini terasa begitu bebas jika dibandingkan dengan kampung halaman,
Hidup jauh dari keluarga memang membuat saya merasakan kebebasan dan belajar tentang kemandirian yang sesungguhnya, namun kerap merasakan perang batin tentang rindu dan juga rasa malu karena belum bisa meraih mimpi-mimpi yang dimiliki, walaupun sebenarnya keluarga tidak akan mempermasalahkannya.
Namun saat jadi perantau bukan berarti selamanya merasakan yang enaknya terus, tentu ada pergolakan batin setiap kali rasa rindu dengan rumah itu muncul, bagaimana tidak berkumpul dengan keluarga dan orang orang tersayang jelas menjadi sebuah impian paling sederhana namun sangat sulit untuk diwujudkan.

Home Sweet Home
Ada juga masanya saat kondisi tubuh menurun atau sedang tidak enak badan, ingin sekali rasanya ada yang memperhatikan dan merawat, namun sebagai perantau harus sudah terbiasa tidak ada yang merawat ketika sakit. Berjauhan dari orang tua membuat saya harus bisa menjaga diri sebaik baiknya. Namun ketika sakit ingin rasanya berkeluh kesah dan dirawat dengan belaian tangan orang tua, sayangnya itu tidak bisa terjadi, hanya sebatas angan angan belaka karena tidak ingin membuat orang tua dirumah khawatir.
Menjadi perantau jelas jarang merasakan makanan-makanan enak, mungkin hanya awal bulan, atau acara acara kantor atau atau bahkan acara teman yang sesekali bisa menjauhkan dari makanan makanan instan, karena pengelolaan uang saku memang harus benar benar dilakukan untuk hidup aman, bukan berarti pelit.
Walaupun punya kesempatan makan enak pada acara acara tersebut tetap tidak akan pernah bisa mengalahkan kenikmatan masakan ibu dirumah. Jujur saja, anak mana sih yang tidak mengatakan masakan ibu mereka adalah yang paling nikmat didunia???

Memasak Sendiri Saat di Perantauan, disaat Merindukan masakan Ibu
 Saat diperantauan ada kalanya diserang dengan sepi dan kerap merasa sendiri. Mungkin rasa sepi sedikit terobati kala berkumpul bersama dengan teman teman atau sedang dalam kegiatan, sesaat rasa sepi seolah menguap, namun sekembalinya ke tempat kost atau kontrakan mulailah rasa sepi itu kembali menyerang.
Berada jauh dari kota kelahiran, tak memiliki saudara sebagai tempat untuk dikunjungi sesekali terasa sangat menyiksa, dan hampir muncul dalam tiap doa, agar segera bisa pulang ke kampung halaman untuk berkumpul dengan orang-orang yang disayang, sehingga tidak lagi merasa sendiri dan terasing.
Tahun pertama ditanah rantau adalah tahun-tahun tersulit saat merantau, sehingga cukup untuk menjadi pribadi yang lebih kuat dan berani dari sebelumnya, Setelah dirasa cukup menaklukkan tantangan di tanah melayu ini, ingin rasanya merasakan tantangan dan petualangan yang lebih dan lebih, tanah rantaupun diperjauh menuju Ibukota, yang katanya lebih kejam dari Ibu Tiri.
Sesampainya digemerlap ibu kota ternyata jauh dari apa yang dibayangkan, kerasnya kehidupan ibu kota memaksa saya untuk menjadi pekerja keras yang menghabiskan banyak waktu ditempat kerja, kemacetan dan lain sebagainya menambah kepenatan setiap kali berangkat dan pulang kerja. Ingin rasanya bisa sesering mungkin pulang ke kampung halaman untuk melihat orang orang tersayang. Tapi beban dari pekerjaan seakan tidak pernah habis.
Jadi perantau yang tidak bisa sering sering pulang seenaknya tentu saja memaksa menimbun rasa rindu, wajah orang orang tersayang dikampung halaman hanya menjadi hayalan untuk selalu berada dekat dengan mereka, namun dengan menyadari bahwa merantau selalu satu kemasan dengan jarak dan konsekuensinya, sehingga tidak bisa sesering yang dibayangkan untuk bisa pulang.
Selain terpisahkan jarak, segudang tanggung jawab juga menjadi salah satu penghalang, jangankan punya waktu untuk pulang, sekedar bisa membaringkan badan di kamar saja tak leluasa, namun hal itu harus dijalani, karena sudah memutuskan untuk merantau demi mengejar pencapaian kesuksesan pribadi.
Kehidupan yang dirasa keras di ibukota ini tidak membuat saya jera untuk merantau, malah membuat saya ingin merasakan tantangan yang lebih.  Tawaran menarikpun muncul setelah 10 bulan di ibukota, tantangan untuk menaklukan tanah Borneo pun saya ambil, sensasi berbedapun dirasa sangat kontras dengan kehidupan gemerlap kota Jakarta, bekerja dipedalaman hutan Borneo memaksa harus terbiasa dengan berbagai jenis transportasi, darat, udara, laut dan bahkan sungai. Tak hanya masalah trasportasi, masalah perbedaan zona waktu, dan yang paling sulit yaitu keterbatasan sinyal untuk komunikasi.
Pindah dari keramaian yang dirasakan di Ibukota menuju kesunyian di kedalaman hutan Borneo memang bukanlah hal mudah untuk ditaklukan,  namun anugrah yang saya peroleh bekerja di tanah borneo yaitu bisa lebih mengenal banyaknya keragaman budaya yang ada di Negeri Indonesia tercinta. Bertemu banyak orang dan karakter yang berbeda-beda memaksa kita untuk beradaptasi. Seperti kata pepatah: dimana bumi dipijak disana langit dijunjung.
Dengan bekerja di tanah Borneo ini jugalah saya bisa merasakan yang tidak bisa dirasakan oleh kebanyakan perantau, dimana saat merantau namun bisa lebih sering pulang untuk melihat orang-orang tersayang ditanah kelahiran. Ya setidaknya hampir setiap dua bulan sekali bisa melihat kampung halaman tercinta.  Dengan kondisi seperti ini pulalah yang membuat saya memiliki lebih banyak kesempatan untuk mengelilingi dan menikmati keindahan dan bentang alam indah yang dianugrahkan kepada Indonesia.
Namanya hidup kita pasti selalu dihadapkan dengan yang namanya pilihan, hanya dalam waktu 2 tahun 7 bulan di tanah borneo (kecuali Kalimantan Bagian Barat) tawaran pun muncul untuk menjajal sisi timur dari Indonesia, tanah rantau selanjutnya yang hendak dituju yaitu di tanah Halmahera bagian utara Provinsi Maluku Utara. Disinilah sampai saat ini saya masih terdampar demi kehidupan yang lebih baik.
Makin banyaklah keluarga-keluarga baru yang saya miliki, setelah bertemu dengan begitu banyak orang dari berbagai suku, budaya, ras, adat, seni, dan kuliner yang berbeda, makin banyak lah ilmu dan pengalaman yang diraih, serta makin mengerti tentang kayanya Indonesia.
Yang  namanya pilihan, ibarat 2 sisi mata uang, pasti ada sisi positif dan negatif nya, tidak jarang dijumpai pendapat kebanyakan orang setelah mendengar tanah perantauan sampai di Timur Indonesia ini, seolah-olah akan merantau dalam waktu yang sangat lama dan akan susah untuk kembali dalam waktu dekat, mungkin hal ini juga yang menjadi kekhawatiran kebanyakan orang untuk melanjutkan menuju hubungan tingkatan yang lebih serius. Ya jarak dan perbedaan zona waktu memang menjadi masalah utama.
Namun tidak seperti yang dibayangkan banyak orang, justru saat saya berada di Timur Indonesia inilah saya punya kesempatan dan waktu yang lebih banyak untuk bertemu keluarga tercinta di tanah kelahiran. Bagaimana tidak, setiap satu bulan sekali saya bisa menginjakan kaki di kampung halaman tercinta. Tidak selamanya segala sesuatu itu seperti apa yang kita lihat dan bayangkan.
Dengan merantau kita akan merasakan begitu banyak manfaat, jadi bagi anda sesama perantau yang tinggal berjauhan dengan keluarga, atau yang sedang menjalankan pendidikan diluar kota, berikut beberapa manfaat yang bisa kita peroleh dan rasakan:

- Menjadi Orang yang lebih mandiri.
Jauh dari orang tua, orang orang tersayang, dan tinggal dengan orang baru seperti terasing memaksa kita untuk harus melakukan segala sesuatu sendiri, sedangkan mereka yang masih tinggal dengan keluarga mungkin jarang yang mampu melakukannya, karena semua sudah tersedia.

- Menjadi orang yang lebih bertanggung Jawab
Diberikan kepercayaan untuk hidup jauh dari keluarga merupakan sebuah tanggung jawab yang sangat besar untuk dijaga, bagi para perantau akan sangat mengetahui cara menjaga kepercayaan tersebut.

- Menjadi orang yang lebih mudah beradaptasi
Saat merantau kita akan mengalami perbedaan budaya, bahasa dan pastinya makanan, perlu keahlian yang khusus untuk bisa masuk kedalam lingkungan asing dan baru, tidak banyak yang bisa menaklukan semuanya, namun perantau sudah terbiasa dengan hal ini. Analoginya seperti batang singkong, mau dilempar kejenis tanah apapun bisa tumbuh dan berdiri kokoh.

- Kita akan mudah survive dalam hidup
Saat masih bersama keluarga dan orang tua, membuat kita sangat cepat menyerah karena semua akan tersedia, namun saat kita jauh, kita akan dipaksa untuk melakukan segala sesuatu untuk bertahan, karena pulang tanpa keberhasilan akan dipandang gagal dikampung halaman.

- Kita menjadi penyuka tantangan.
Tinggal dengan lingkungan dan suasana yang baru, membuat kita bertemu dengan berbagai macam tantangan, dan kita akan mampu untuk mengendalikan hal tersebut.

- Kita jadi lebih mencintai daerah asal
Saat tinggal dikampung halaman, kita tidak begitu memperhatikan atau mungkin tidak paham dengan lingkungan sekitar, saat menjadi perantau kita akan mempunyai dorongan untuk mengembangkan kampung halaman menjadi lebih baik.

- Membuat kita kehilangan arogansi,
Saat kita masih berada di tanah kelahiran, boleh jadi semua orang akan mengenal kita karena nama besar orang tua, atau nama baik keluarga, namu saat ditanah rantau, seperti saat kita mengisi bahan bakar, karena semua dimulai dari NOL, tidak ada yang mengetahui kehebatan orang tua dan keluarga kita, dan kita sendiri yang membangun penilaian orang.

- Menjadikan kita sebagai pribadi yang lebih berani mengambi resiko.
Dibanding dengan saudara atau rekan rekan di kampung halaman saat mereka mengambil keputusan dihadapkan dengan banyak sekali pertimbangan, sedangkan yang sudah terbiasa di tanah rantau mendidik kita untuk lebih berani memutuskan sesuatu dalam waktu yang singkat.

- Mempunyai banyak keluarga baru.
Dibandingkan dengan rekan rekan kita yang berada dikampung halaman, perantau punya kesempatan bertemu lebih banyak orang-orang baru, kenalan, sahabat, bahkan keluarga baru, entah karena senasib atau karena perjalanan-perjalanan yang sudah ditempuh.

Setidaknya itulah yang dapat saya rasakan saat mencoba mengapai cita, bukan mengenyampingkan cinta, namun bagaimana menyelaraskan keduanya. Pilihan yang sulit memang menjadikannya ideal, namun bisa dibuat keduanya menjadi lebih baik. Dengan merantau juga kita akan lebih menghargai setiap detik waktu bersama keluarga.


   Tidak ada yang perlu kita takutkan saat merantau selama ada kemauan. Karena dengan merantau akan melatih diri untuk keluar dari zona nyaman, untuk lebih bertanggung jawab dalam hidup peran sebagai anak, entah dalam proses pendidikan ataupun pekerjaan. Kita juga akan terbentuk menjadi pribadi yang kuat dan mandiri. Tapi yang perlu diingat merantau jangan jadi perantau yang sekedar merantau, ibarat berperang, seorang serdadu perlu latihan dan persiapan dengan baik sebelum berperang, jadi persiapkan diri dan nikmati saja setiap prosesnya. 

Sebagai perantau kita akan mendapatkan banyak pengalaman yang mungkin belum didapat dikampung halaman, diperantauan kita bisa mengenal lebih banyak orang, sehingga kita terbiasa menghadapi masalah dengan banyak sudut pandang tentu hal ini menambah berbagai wawasan.

Jadi berbanggalah anda yang diberikan kesempatan untuk menaklukan tanah rantau, karena tidak banyak orang yang bisa merasakan hal tersebut. Teruntuk yang saat ini masih bersama orang tua, tidak ada salahnya mencoba hal baru dan petualangan baru di tanah rantau, keluar dari zona nyaman untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Segeralah kemasi barang barangmu dan taklukkan lah dunia dengan petualanganmu.

Song : 
Fourtwnty - Zona Nyaman 

Sekian
Maluku Utara,
September 2017
Abrar Analdi

Follow Me : 






Bukit Jaddih : Pesona Tambang Kapur di Madura

Tidak ada komentar

Berjarak 48  menit dari Kota Surabaya, rute tercepat dilalui dengan sepeda motor adalah via Tol Suramadu. Terletak di Pulau Madura, sulit membayangkan bekas tambang kapur menjadi sebuah salah satu objek wisata yang ramai di kunjungi.  Lebih tepatnya Bukit Jaddih ini terletak di Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur. 

Lamban laut pulau Madura sudah mulai menghilangkan ke identikannya dengan ronsokan besi tua, jembatan suramadu ataupun bebek sinjai. Sekarang mereka memiliki primadona baru dari segi wisata mereka, cukup hangat dibicarakan masyarakat sekitar, terutama kalangan pemuda yang hobi travelling. Sayang rasanya kalau kita mengujungi Madura tidak mencoba ke objek wisata ini. 

Pertambangan Kapur yang Masih Aktif

Terlihat tidak terlalu istimewa, objek wisata ini sudah menjadi salah satu alternatif tempat pre-wedding pasangan yang akan menikah di pulau Madura. Terbukti waktu kami berkunjung kesana terlihat keringat fotografer yang tidak tahan panasnya pulau Madura untuk memadu pasangan yang akan dia potret. 

Keistimewaanya Bukit Jaddih ini adalah bongkahan – bongkahan batu kapurnya, dimana saat ini masih ada pengalian tambang oleh masyarakat sekitar.  Tebing-tebingnya memang tidak terbentuk alami, melainkan akibat pahatan para penambang kapur yang mengais rejeki ditempat ini selama bertahun-tahun lamanya. Kikisan itulah yang membuat suatu pesona dari bukit ini. 

Hal menarik lainya di bukit ini adalah, adanya kolam pemandian alami, masyarakat setempat menyebutnya dengan “Aeng Gowa Pote” yang berarti Air Gua Putih. Awal mulanya pemandian ini merupakan bekas galian tambang kapur yang kemudian memancarkan mata air secara alami. 

Namun dibalik keindahan bukit jaddih ini tetap diminta kehati-hatian kita dalam mengunjungi lokasi ini, Karena lokasi ini masih digunakan sebagai penambangan kapur yang masih aktif.

Keindahan Tersendiri Bukit Jaddih

Dikawasan ini anda juga bisa menikmati sebuah danau bekas galian tambang. Masyarakat setempat menyebut danau ini dengan Danau Biru. Tapi sangat disayangkan, ketika kami sampai disana air danaunya tidak biru. Tapi lebih ke hijau.

Sampan Madura siap Menemani Anda

Anda bisa berfoto di tengah tengah danau ini dengan menaiki sampan yang sudah disediakan oleh pihak pengelola objek wisata ini. Dengan sampan yang bertuliskan Madura ini anda bisa berkeliling danau ini. 

Sampan Danau Biru

Ramainya Pengunjung di Teriknya Mentari
Panasnya pulau Madura tidak membuat pengunjung berkurang, demi eksistensi di dunia maya, pengunjung rela berkeringat untuk mendapatkan sebuah foto yang layak untuk di pajang di social media mereka. 

Indahnya Hamparan Danau di Tengah Tengah Bukit Kapur

Dengan membayar tiket masuk yang tergolong murah, dan berlokasi lebih dekat dari tol suramadu, kepuasan saat mengunjungi lokasi ini terpuaskan, walaupun harus dilalui dengan perjalanan yang penuh debu, akibatnya kendaraan kita akan keluar dalam keadaan putih atau penuh debu akibat mengunjungi objek wisata ini. 

Walaupun Cantik, Tapi Jangan Berenang

Waktu terbaik berkunjung kelokasi ini adalah ketika siang hari, dalam keadaan hujan mungkin lokasi ini tidak akan menarik bagi pengunjung, dikarenakan tebing tebing kapunya akan terlihat kurang bagus.

Bukit Jaddih dan Danaunya

Untuk anda yang berkunjung ke Bukit Jaddih ini, dan ingin membawa buah tangan untuk keluarga dirumah. Tidak usah risau, terdapatnya satu buah kios yang menyediakan oleh oleh khas Madura, anda bisa membelinya di kios ini. 

Kios Oleh-Oleh di Bukit Jaddih
 
Perjalanan singkat kami di pulau Madura hanya sampai di bukit jaddih, terik matahari semakin menjadi jadi, kamipun tak sanggup melawanya, kami bersiap siang itu untuk kembali ke Surabaya, dengan kembali melewati Jembatan Suramadu dengan jarak tempuh yang sama, 48 menit kurang lebih.
**** 

RUTE MENUJU BUKIT JADDIH

Memakai sepeda motor, anda cukup melewati jembatan suramadu, tetap berada di jalur Moh. Noer, belok kiri sebelum menemui jl. Suramadu, belok kanan kea rah Jl. Raya Labang dan anda tinggal lurus berkendara di Jln. Raya Jaddih di Parseh.

HARGA TIKET MASUK BUKIT JADDIH

Untuk pengunjung dikenakan biaya sebesar Rp.3000 / orang (17 Agustus 2017).
Untuk Motor dikenakan biaya parkir Rp.5000 / motor (17 Agustus 2017).
Untuk Mobil dikenakan biaya parkir Rp.10.000 / mobil (17 Agustus 2017).

****
Rantau bisa ditaklukkan jika Bersama.
Menjelajahi #Indonesiaindah bisa kita lakukan di tanah rantau, Karena kesempatan kita banyak, jangan berdiam darumah, ketika kesempatan itu datang.

Kritik dan Saran Mohon tuliskan di kolom komentar.
Madura, 17 Agustus 2017
Bujang Rantau Team.
  

Merayakan Kemerdekaan dengan Semangat Juang 45

Tidak ada komentar



Sore itu kebahagian muncul dari raut wajah peserta dan penonton. Semua tertawa dalam kebahagian yang sama. Salah satu acara wajib untuk memperingati hari kemerdekaan Republik ini. Berasal dari zaman penjajahan belanda dulunya dipersiapkan untuk hajatan dimana yang menjadi pesertanya adalah orang-orang pribumi.

Batang Pinang Sudah Siap Untuk Dipanjat
Berbagai macam hadiah telah dipersiapkan panitia di puncak batang pinang yang sebelumnya telah dilumuri oli untuk mempersulit langkah peserta menuju puncaknya. Bukan hadiahlah yang diincar peserta, akan tetapi sensasi yang mereka dapatkan sebagai pemanjat  dalam kegiatan lomba tersebut.

Bersama Menuju Puncak
Semua tertarik untuk menyaksikan tradisi ini, acara ini yang bertujuan untuk membentuk kerjasama tim dan menambah keakraban antar masyarakat sekitar. Peserta nya terdiri dari berbagai kalangan, ada yang dari anak-anak hingga orang dewasa bahkan ibu-ibu sekalipun.

 
Ramainya Pengunjung
Dalam lomba ini, kerja sama sangat dibutuhkan, apalagi yang dipanjat adalah pohon pinang yang dilumuri dengan oli. Apabila ada kesalahan satu orang, maka semuanya akan jatuh juga. Meskipun jatuh dan bangkit, tapi di dalam lomba ini masih tetap ada semangat'45.

Hadiah dalam lomba ini ada yang berbagai macam, seperti uang, sendal dan masih banyak variasinya. 

Di daerah Sumatera Barat contohnya, ada 3 buah batang pinang dengan ukuran yang berbeda, Pertama untuk anak-anak dengan hadiah seperti buku dan peralatan sekolah, Kedua untuk remaja dengan hadiah yang lebih besar dari anak-anak, Ketiga, batang pinangnya sangat tinggi, terlebih yang mengikuti remaja dan orang dewasa lainnya.





Meskipun setelah mengikuti lomba tersebut badan-badan menjadi pegal, tetapi kita bisa mendapatkan sensasi untuk mengikuti lomba tersebut dan merasa seperti pemanjat yang profesional serta memiliki rasa semangat juang'45

Kemerdekaan bisa dirayakan dengan cara apapun.
Perjuangan para pejuang tak akan bisa berhasil jika hanya menggandalkan diri seorang, makna yang kita pelajari dari panjat pinang ini adalah kerja sama. Dengan Kerjasama kemenangan akan diraih dengan mudah. Berat sama dipikul ringan sama dijunjung. 

Selamat Ulang Tahun Republik Indonesia
Bagaimana caramu merayakan kemerdekaan ? Mari Tuliskan di Kolom Komentar
Solok, Agustus 2017 
Fathurrizqi Aulia




Surabaya : MERDEKA di Kota Pahlawan

Tidak ada komentar

Terik matahari menyambut kedatangan kami di kota terbesar ke dua di Republik ini. Puluhan penawar jasa tour menyambut dengan tawaran untuk berkeliling menggunakan jasa mereka. Stasiun pasar turi menyambut kami dengan tumpah ruahnya orang-orang yang hilir mudik. Siang itu, terik matahari menyinari kami di pintu kedatangan.  

**** 

Membawa sepeda motor sewaan yang di bandrol Rp.80.000 per hari kami mulai melintasi Surabaya. Tujuan awal kami tentu saja ikon kota pahlawan ini yaitu patung Sura & Buaya yang letaknya memakan waktu 30 menit perjalanan dari stasiun pasar turi.


Begitu ikoniknya patung Sura & Buaya membuat pengunjung tidak henti – hentinya untuk berfoto disana, daripagi hingga malam. Sehingga kami kesulitan untuk mendapatkan foto landscape yang bagus.
****
Terik matahari pun seolah bukan halangan, malahan pengunjung semakin bertambah kawasan ikon kota Surabaya ini. Akhirnya kami yang mengalah. Selanjutnya sebelum memulai perjalanan kami memilih untuk menikmati makan siang.
Pilihan kami jatuh ke Warkop Pinggir jalan, bertepat di daerah sawahan, kota Surabaya. Ada gerobak kaki lima yang tidak lain adalah Warkop. Warkop kaki lima ini berbeda dengan warkop warkop yang pernah saya temui. Disana terdapat makan siang yang beraneka ragam.
Ada pilihan Nasi+Ayam, Nasi+Telur, Nasi+Mie. Dan berbagai macam aneka gorengan. Disempurnakan oleh pilihan minuman yang beraneka ragam. Menariknya, warkop ini selalu ramai dikunjungi, terutama oleh masyarakat kelas menengah kebawah. Akan tetapi, walaupun kaki lima, rasanya tidak kalah hebat dari yang terdapat di restoran mewah sekalipun. 



Berbagai macam menu yang ditawarkan tidak membuat warkop ini memasang tarif yang mahal. Kamipun kaget ketika membayar pesanan kami yaitu hanya sebesar Rp. 19.000.

**** 

Semakin siang, semakin panas. Kami tidak bisa dikalahkan oleh kota ini, kami siap melanjutkan perjalan menuju jembatan penghubung Surabaya dengan Pulau Madura.
Benar, Jembatan Suramadu. Berdiri kokoh siap menyambut kedatangan kami, perjalanan ditempuh sekitar 30 menit dari daerah sawahan. 

Sebelum sampai di jembatan suramadu, kami diberhentikan oleh sebuah gerobak, gerobak ini memiliki kekuatan yang luar biasa ketika panas menerpa. Gerobak es cao.
Cao atau ada yang menyebutnya Cincau Hitam dibuat dari daun cincau (janggelan) kering yang direbus terlebih dulu sampai hancur, lalu ke dalam rebusan tadi ditambahkan Abu Qi (Na OH) atau abu merang. Setelah disaring hingga menghasilkan cairan bening kehitaman kemudian masukkan tepung tapioka. Aduk-aduk hingga merata agar tidak menggumpal lalu dinginkan selama beberapa jam. Selain sebagai pelepas dahaga yang handal, Cao (Cincau) juga sangat bermanfaat mengatasi panas dalam, sembelit, diare, kanker, stroke, penyakit jantung dan masih banyak lagi manfaat lainnya.

Es Cao, Nikmat dengan Harga Murah
Sebagai pelengkap Es Cao, di dalam gerobak ini juga tersedia beraneka makanan ringan, gorengan dan sate jeroan. Per gelasnya es cao dibandrol dengan harga Rp.2500. Cukup murah untuk menghilangkan dahaga di tengah terik kota Surabaya. 

**** 

Akhirnya kami sampai di salah satu jembatan terpanjang di dunia (proses pembuatannya) & merupakan jembatan terpanjang di Indonesia. Terpampang kokoh di hadapan kami, jembatan ini ramai dikunjungi, oleh turis lokal, maupun mancanegara.
Terbukti, banyaknya pedagang kaki lima di sekitar lokasi. Untuk motor, mencoba menyeberangi jembatan ini tidak dikenakan biaya, alias gratis, akan tetapi rambu rambu di larang berfoto di jembatan membuat kami tidak bisa mengabadikan perjalanan dari atas jembatan.


Sayang, ketika malam hari, lampu-lampu di sisi jembatan kurang mempesona, keindahanya berkurang. Menyurutkan niat kami untuk berfoto di malam hari di sisi jembatan ini. 

**** 

Panas semakin menjadi, kami memutuskan untuk kembali ke hotel untuk beristirahat. Dan akan melanjutkan perjalanan pada malam hari, untuk menikmati berbagai macam jenis kuliner di kota ini.
****
Jam sudah menunjukkan 19:00 kami sudah bersiap untuk santap malam di kota pahlawan ini. Tujuan pertama kami adalah Nasi Rawon. Menurut sahabat baik saya (google) nasi rawon yang enak terdapat di jalan embong malang 42 A. Kota Surabaya. Rawon Setan Bu Sup.

Rawon Setan Bu Sup
Menikmati semangkuk soto dan sepiring nasi. Rawon ini tidak membuat kami kesetanan, setelah meng-interview penjualnya kami mendapatkan kesimpulan bahwa penamaan rawon setan ini berdasarkan dulunya, nasi rawon hanya dibuka ketika malam hari hingga subuh.
Semangkok rawon setan ini dibandrol dengan harga Rp. 40.000 cukup kaget bagi anda yang datang kesini dengan membawa uang Rp.20.000.

Mempesonanya Nasi Rawon
Setelah puas dengan rawon setan. Perjalanan mencari kuliner di kota Surabaya masih terus berlanjut. Target kami selanjutnya adalah Lontong Balap. Kuliner khas kota Surabaya yang berisi lontong, taoge, tahu goreng, lentho, bawang goreng, kecap, dan sambal. Lontong balap terdiri dari lontong yang diiris-iris dan di atas irisan lontong ini ditumpangi irisan tahu dan remasan beberapa lentho (bulatan kecil sebesar ibu jari dan dipencet ini bentuk lentho asli lontong balap, berbeda dengan lentho yang dipakai sekarang), kemudian di atasnya ditumpangi kecambah setengah matang yang porsinya terbanyak dalam hidangan, setelah itu diambilkan kuah secukupnya, sambal dan kecap disesuaikan selera pembeli. Makanan ini dihidangkan dengan pasangannya yaitu, beberapa tusuk sate kerang.

Kesegaran Lontong Balap Pak Gendut
Seporsi lontong balap di bandrol dengan harga cukup murah. Rp.20.000, kenikmatan menyantap makanan ini adalah, ketika sambal ditambahkan ke dalam kuah lontong ini. Kesegaran rasa kuahnya membuat pikiran menjadi segar. 

**** 

Setelah kenyang kami melanjutkan perjalanan ke Jalan Pemuda No.39, Embong Kaliasin, Genteng. Disana terdapat sebuah monumen, Monkasel istilah orang Surabaya. Monkasel adalah singkatan dari Monumen Kapal Selam.
Terletak di pusat kota, membuat monumen ini mudah untuk dikunjungi. Sebenarnya monument ini adalah Kapal Selam KRI Pasopati 410, unit dari Angkatan Laut Indonesia buatan Rusia pada tahun 1952. Pernah ikut berjuang di Pertempuran Laut Aru untuk membebaskan Irian Barat dari pendudukan Belanda.


Bagaimana kapal selam ini bisa sampai di darat ? Pak Drajat Budiyanto bermimpi diperintahkan KSAL untuk membawa kapal selam ini melayari kali mas. Akhirnya mimpi itu menjadi kenyataan, dia ditugaskan untuk memajang di samping Surabaya Plaza. Dengan cara memotong kapal selam ini menjadi beberapa bagian kemudian diangkut ke darat, dan dirangkai dan disambung kembali menjadi kapal selam yang utuh.
Kami akan menjabarkan cerita lengkap kapal selam ini dalam sebuah artikel khusus. Persembahan untuk pahlawan Angkatan Laut Republik ini. Suatu bentuk penghargaan kami di bulan kemerdekaan ini.
Malam sudah larut. Monkasel sudah bersiap untuk ditutup. Kami memutuskan untuk ke hotel untuk beristirahat menyiapkan kondisi tubuh untuk perjalanan keesokan harinya. 

**** 

Pagi itu Matahari di Surabaya kembali menegaskan sinarnya ke jendela di kamar hotel kami. Menyuruh kami bangun untuk bersiap menjelajahi kembali kota ini.
Keluar dari hotel mulai jam 08:00 kami bersiap mencari sarapan. Kembali meminta bantuan google mencari sarapan enak di kota ini. Pilihan kami jatuh ke Soto Ayam Lamongan Pak Darsono. Berlokasi di Jl. Gembong, Simokerto, Surabaya membuat soto ini mudah untuk dijumpai Karena letaknya dipinggir jalan.

Soto Ayam Pak Darsono
Berada di pinggir jalan tidak membuat rasa sotonya menurun. Dibandrol dengan harga Rp.10.000 per porsi kelezatan soto ini sangat cocok untuk anda yang akan memulai perjalanan di kota ini.

Kelezatan yang Hakiki

Semangkok soto yang menggugah selera telah kami habiskan. Bersiap memulai perjalanan di Surabaya untuk hari kedua.
**** 

Letak soto lamongan ini yang tidak jauh dari Tugu Pahlawan. Membuat kami menentukan pilihan selanjutnya ke Tugu Pahlawan. Memiliki tinggi 41,15 meter dan berbentuk lingga atau paku terbalik. Tubuh monumen berbentuk lengkungan-lengkungan (Canalures) sebanyak 10 lengkungan, dan terbagi atas 11 ruas. Tinggi, ruas, dan canalures mengandung makna tanggal 10, bulan 11, tahun 1945. Suatu tanggal bersejarah, bukan hanya bagi penduduk Kota Surabaya, tetapi juga bagi seluruh Rakyat Indonesia.


Berlokasi di tengah-tengah kota di Jalan Pahlawan Surabaya, dan di dekat Kantor Gubernur Jawa Timur. Tugu Pahlawan merupakan salah satu ikon Kota Surabaya sebagai Kota Pahlawan.
Di bawah tanah lahan Tugu Pahlawan sedalam 7 meter terdapat sebuah museum untuk mengenang jasa-jasa para pahlawan yang berjuang di Surabaya, di museum ini juga terdapat foto-foto dokumentasi pembangunan Tugu Pahlawan.
Kamipun mencoba masuk kedalam muse mini, demi merasakan sensasi perjuangan Bung Tomo. Biaya masuknya cukup murah, Bagi Mahasiswa/Siswa hanya cukup memperlihatkan Kartu Mahasiswa tidak akan dipungut biaya, akan tetapi bagi masyarakat umum dikenakan biaya sebesar Rp. 5000,-. Cukup murah bukan ?

Pintu Masuk Museum
Memasuki museum ini membuat merinding, benar-benar tempat wisata bersejarah yang sangat sangat kami rekomendasikan, selain menambah pengetahuan soal sejarah, rasa untuk menghargai jasa para pahlawan akan semakin kuat setelah memasuki museum ini.
Sangat, Sangat, Sangat, Sangat, Sangat, Sangat, Sangat, Sangat, WAJIB untuk anda kunjungi di kota Surabaya.

Add caption

Add caption


Jika anda ke Surabaya jangan lupakan untuk berkunjung ke Tugu dan Musem Pahlawan ini. Sekali lagi dari kami : Sangat, Sangat, Sangat, Sangat, Sangat, Sangat, Sangat, Sangat, WAJIB untuk anda kunjungi di kota Surabaya. 

****
Setelah puas mengenang jasa para pahlawan, mengheningkan cipta, dan menghapus air mata Karena melihat para pejuang di pertempuran 10 November, kami bersiap ke tempat selanjutnya.
Tujuan kami selanjutnya adalah House Of Sampoerna. Ini merupakan sebuah museum yang dimiliki oleh perusahaan rokok yang Berjaya di Republik ini. Sampoerna Tbk.  Terletak di kawasan "Surabaya lama", gedung megah bergaya kolonial Belanda ini dibangun pada tahun 1858 dan sekarang menjadi situs bersejarah yang terus dilestarikan.

Pintu Masuk Museum HOS
Saat ini, gedung ini masih berfungsi sebagai tempat produksi salah satu produk rokok paling bergengsi di Indonesia, Dji Sam Soe. Dalam peringatan ulang tahun ke-90 Sampoerna di tahun 2003, kompleks utama telah susah payah renovasi dan sekarang terbuka untuk umum.

Tembakau Sampoerna

Pengolahan Tembakau

Masuk ke museum ini tidak dikenakan biaya apapun, alias gratis, bagaimana ? enak bukan ? melihat salah satu museum salah satu pabrik rokok terbesar di Indonesia.
 
Museum House of Sampoerna (HOS) menawarkan pengalaman yang benar-benar unik bagi pengunjung. Dari cerita tentang keluarga pendiri sampai melihat dari dekat proses penggulungan rokok yang masih dilakukan secara manual dalam produksi rokok Dji Sam Soe.
Di dalam museum kafe, pengunjung bisa membeli berbagai souvenir yang berkaitan dengan gedung Sampoerna ini, seperti: miniatur peralatan tongkat rokok tradisional, cengkeh, buku dan kemeja.
**** 

Setelah puas dengan melihat 2 museum di kota Surabaya kami memilih untuk bersembunyi dari hiruk pikuknya kota Surabaya.
Tujuan kami adalah hutan bambu kota Surabaya. Berlokasi di Jl. Raya Marina Asri, Keputih, Sukolilo, atau disisi timur kota Surabaya. Hutan bamboo ini ramai dikunjungi masyarakat setempat, dikarenakan sejuknya lokasi ini, membuat orang betah untuk bercerita di tempat ini.

Kesejukan di Hutan Bambu
Hutan Bambu Surabaya
Dari sejarahnya dulu lokasi hutan bambu putih ini adalah tempat pembuangan akhir, namun saat kota Surabaya di pimpin oleh Bu Risma, TPA ini di sulap menjadi hutan bambu yang bagus, dan bisa mendatangkan banyak wisatawan kesini.Saya sangat setuju sekali dengan di ubahnya pembuangan akhir menjadi kawasan konservasi hijau berbagai jenis bambu. Dan ini adalah kebijakan yang sangat bagus bagi lingkungan hidup.

**** 

Demikian perjalanan singkat kami untuk merdeka di kota pahlawan.
Silahkan tinggalkan komentar, untuk kritik dan Saran, atau pertanyaan mengenai perjalanan di Kota Surabaya.

Terima Kasih,
Bujang Rantau Team,
Surabaya, 17 Agustus 2017