Bujang Rantau

Mari kita mengkaji rantau lebih dalam bersama kami di Blog Ini. Tidak usah sungkan, rantau bisa kita taklukan jika kita bersama.

Recent Posts

Yogyakarta : Elegannya Keraton dengan Istana Taman Sari

Tidak ada komentar


Pagi itu, Yogyakarta sudah mulai memperlihatkan ke-istimewaanya kepada kami. Matahari pelan pelan mulai menyinari kota ini, kami menginap di salah satu penginapan di sekitaran jalan malioboro. Dimana malam sebelumnya kami sempat menghabiskan waktu dengan menikmati jajanan malam di kota Yogyakarta ditemani musik dari pengamen jalanan yang luar biasa.
Jam masih menunjukkan pukul 07:00, kami masih belum beranjak dari tempat tidur, masih mencoba menghilangkan kelelahan didalam tubuh setelah sehari sebelumnya kami menikmati Yogyakarta. Rencananya kami akan mencoba berkeliling kota Yogyakarta menikmati wisata yang ada di pusat kota ini.
****
Perjalanan di mulai, kami menikmati sarapan di pasar beringhajo yang berjarak tidak terlalu jauh dari penginapan kami. Menikmati pecel bakmi, di pinggir jalan merupakan kenikmatan tersendiri yang ingin disampaikan kota Yogyakarta kepada wisatawan yang berkunjung ke kota mereka.

Courtesy Of Google
Setelah kenyang menyantap sarapan, kami memutuskan untuk menuju keraton Yogyakarta. Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat merupakan tempat tinggal sultan dan rumah tangga istananya yang masih menjalankan tradisi kesultanan hingga saat ini. 


Mempunyai bangunan dengan arsitektur yang sangat indah, berkunjung ke keraton Yogyakarta merupakan kesempatan tersendiri bagi wisatawan yang ingin merasakan suasana kerajaan.

Peralatan Musik di Keraton
Untuk kita turis lokal maupun mancanegara, hal yang perlu diperhatikan adalah jam buka keraton ini Setiap Hari jam 08:00 – 14:00 kecuali pada hari Jumat, Keraton Yogyakarta dibuka mulai 08:00 – 12:00.
Di keraton Yogyakarta kita bisa menikmati wisata sejarahnya, seperti : koleksi lukisan, benda pusaka seperti keris, tombak, dan lainya. Bisa menikmati kumpulan gamelan dan tong dan berbagai peralatan musik lainya.

Salah Satu Koleksi Keraton Yogyakarta
Di keraton Yogyakarta anda bisa puas berfoto dengan background dan koleksi yang ada di Keraton Yogyakarta. Dimana kesempatan ini tidak akan bisa dinikmati di tempat lainya. Namun, anda harus membayar tiket izin untuk mengambil foto di komplek keraton Yogyakarta, dengan membayar sebesar Rp.1000,-. Cukup murah untuk menikmati keindahan keraton Yogyakarta.  

Tiket Izin Foto

Koleksi Keraton
Koleksi Keraton
Anda juga bisa menikmati pagelaran yang diadakan setiap hari untuk para wisatawan yang berkunjung ke keraton Yogyakarta. Di keraton juga terdapat bioskop untuk melihat sejarah kota Yogyakarta.
Koleksi Keraton
Hal yang sangat dan harus anda perhatikan waktu berkunjung ke keraton Yogyakarta adalah Selalu menjaga ketertiban dan berprilaku sopan, dan ada beberapa larangan yang sudah di tuliskan, jadi jangan sampai anda tidak memperhatikanya. 

****  

Selanjutnya kami berkunjung ke salah satu taman yang terletak di Istana Keraton Yogyakarta Hadiningrat. Yaitu Taman Sari. Taman sari ini merupakan benteng pertahanan terakhir jika istana diserang musuh.

Foto di Peragakan oleh Model.
Gerbang Umbul Binungan
Kami berkunjung pertama kali langsung menuju pemandian Umbul Binungan. Pada zamanya tempat ini merupakan yang paling eksotis, tapi itu tidak berubah, sampai kami kesana, tempat ini masih paling eksotis dengan warna air yang segar, keinginan untuk mandi disana pasti akan terlintas di pikiran para wisatawan.

Umbul Binungan

Umbul Binungan dari Atas

****
Cuaca semakin panas, kami memutuskan untuk kembali berkeliling hanya di jalan malioboro saja, menikmati kota Yogyakarta dengan melihat koleksi batik yang berjejer di toko-toko sepanjang jalan Malioboro.

Pengrajin Batik
Pengrajin Batik
Batik yang merupakan ciri khas kita sebagai bangsa Indonesia, merupakan kesempatan yang sangat baik bagi kami untuk langsung melihat proses membuat batik tersebut, ini bisa anda nikmati di toko batik sepanjang jalan malioboro.
Sayangnya, pengrajin batik masih di domisili oleh ibu – ibu yang sudah berumur, sayang sekali, kalau ini tidak diteruskan ke generasi selanjutnya. Batik ciri khas kita sebagai bangsa Indonesia. 

**** 

Senja telah muncul, matahari mulai terbenam, maghrib sudah mulai menghampiri kami, tanda kami untuk kembali ke kota kembang sudah muncul. Benar, kami kembali malam itu sesuai dengan tiket yang sudah kami pesan sebelumnya.
Yogya dengan keistimewaanya telah membawa kami ke salah satu kekayaan yang dimiliki oleh bangsa ini. Orang orang ramahnya, beraneka makanan yang menggugah selera, kota yang tertata rapi. Wahai Yogyakarta terima kasih atas sambutannya, suatu saat kami akan kembali ke kota ini.

Lempuyangan Mengajak pulang
Stasiun lempuyangan sudah menunggu kami, kereta silih berganti telah masuk ke stasiun. Hanya menunggu beberapa menit lagi kami akan meninggalkan Yogyakarta dengan Keistimewaanya, siapapun yang berkunjung ke kota ini, pasti memiliki cerita tersendiri di istimewanya Yogyakarta.  

Terima Kasih Yogya

Terima Kasih Yogyakarta,
Antara Rindu dan Akhir Untuk Cerita Lama telah terselesaikan.
Semoga cerita keistimewaan Yogyakarta ini bisa dilihat anak cucu kami.
Bujang Rantau, Yogyakarta 2013


Morotai : Tenggelamnya Surga Cantik di Utara Maluku

Tidak ada komentar

Merantau kita harus bisa berbaur dengan lingkungan rantau, merantau kurang lebih seperti dibawa oleh gelombang laut sampai berhenti ditempat yang tetap dan tidak bisa dibawa arus lagi, hal ini pula lah yang saya alami ketika merantau terbawa arus dan angin sehingga sampai jua lah menginjakan di salah satu daratan yang mempesona ini.

Sign Morotai
  Morotai salah satu lagi pulau eksotis yang membuktikan bahwa negeri kita Indonesia ini Indah. Pulau yang merupakan salah satu pulau terbesar, dan sebagai salah satu pulau terluar di Republik Indonesia, letaknya berada paling timur dari provinsi Maluku utara, berbatasan langsung dengan lautan lepas Samudra Pasik di sebelah utara dan timur.

Letak Morotai
 Pulau Morotai yang sering disebut the Hidden Paradise of East Indonesia oleh banyak wisatawan asing. Hal yang membuat mereka menyebut Morotai dengan panggilan tersebut karena Keindahaan alam bawah Laut Pulau Morotai akan membuat anda tak ingin menutup mata agar tidak tertinggal sejengkal pun menyaksikan keindahaan pantai dan trumbu karangnya yang menawan.
Kabupaten Pulau Morotai ini mempunyai luas wilayah 4.301,53 Km2, dengan luas daratan seluas 2.330,60 Km2 dan luas wilayah laut sejauh 4 mil seluas 1.970,93 Km2. Panjang garis pantai 311.217 Km. Jumlah pulau-pulau kecil yang terdapat di Kabupaten Pulau Morotai berjumlah kurang lebih 33 pulau dengan rincian pulau yang berpenghuni berjumlah 7 pulau dan yang tidak berpenghuni berjumlah 26 pulau. 
Sebagai pulau yang terlepas dari pulau besar Halmahera, Pulau Morotai tidak memiliki penduduk asli yang menetap secara turun temurun. Penduduk sekarang yang menetap dan beranak-pinak di Pulau Morotai berasal dari Suku Tobelo dan Suku Galela di Pulau Halmahera, tepatnya di Kabupaten Halmahera Utara. Kedua suku (sub-etnis) tersebut mendominasi mayoritas penduduk Morotai hingga kini. Migrasi penduduk dari kedua suku ini disebabkan oleh bencana alam yaitu meletusnya gunung berapi di pulau tersebut.
Menurut penduduk setempat, Morotai berasal dari kata Morotia yang artinya tempat tinggal orang-orang moro. Orang moro adalah manusia misterius atau orang hilang yang sulit dilihat dengan mata biasa, namun memiliki kebudayaan sebagai kelompok manusia biasa.

***

Mengapa Morotai harus dimasukkan dalam Jadwal Traveling Anda?

Mungkin bagi traveler yang belum mengetahui Morotai, apa saja yang menarik dari pulau ini? Sejatinya Morotai memang banyak menyimpan pesona. Baik berupa pesona bawah laut, pesona kepulauan, dan bahkan sampai ke pesona sejarahnya yang kuat.
Bagi para traveler tinggal memilih mau pesona mana yang akan di pilih sesuai dengan minat traveler masing-masing.
Bagi traveler pencinta olahraga menyelam Morotai punya kekayaan di bawah lautnya, dengan lebih dari 25 titik penyelaman yang menyajikan segudang keindahan. Ada Tanjung Wayabula, Dodola Point, Batu Layar Point, Tanjung Sabatai Point, hingga Saminyamau. Semuanya luar biasa indah, dengan perairan jernih berwarna biru tua. Biota lautnya tak terhingga, hidup di antara terumbu karang yang terawat dan bekas-bekas reruntuhan kapal.
Keindahan alam Pulau Morotai tak hanya tercermin lewat bawah lautnya saja, tapi juga di daratannya. Hamparan pasir putih yang luas siap memanjakan mata siapa pun yang menginjakkan kaki disana. Panorama matahari terbit dan tenggelam menjadi salah satu momen paling dinanti oleh wisatawan, yang rupanya masih jarang datang ke sana. Pulau-pulau kecil sekitar Morotai sangat indah dengan hamparan pasir putih, Namun diantara putihnya pasir jangan heran jika ada tampak lempengan besi, seperti sisa-sisa perang. Karena Pulau-pulau kecil yang indah ini pernah menjadi saksi Perang Dunia II.

***
Bagaimana cara ke Morotai?

Traveler yang berencana hendak ke Morotai ada beberapa cara yang dapat ditempuh menuju Pulau Morotai, bisa menggunakan jalur udara, darat, laut atau kombinasi dari 3 moda transportasi terebut.
Untuk yang mememilih perjalanan yang simple dan hanya punya sedikit waktu bisa menggunakan transportasi udara. Traveler bisa memesan tiket pesawat menuju morotai, namun akan transit di Bandara Sultan Babullah di Kota ternate. Penerbangan dari bandara Sultan Babullah Kota Ternate ke Bandara Pitu Pulau Morotai biasanya menggunakan Pesawat tipe ATR.
Cara kedua bisa juga menggunakan kombinasi udara dan laut, setelah traveler sampai di bandara Sultan Babullah Kota Ternate bisa melanjutkan menuju pelabuhan Ahmad Yani ternate naik kapal laut KM. RATU MARIA atau KM. GEOFANI langsung ke Morotai dengan waktu tempuh satu malam (biaya ±  Rp 200.000).
Alternative lain yaitu menggunakan jalur kombinasi udara, laut dan darat memerlukan lintasan beberapa wilayah utama yakni Sofifi dan Tobelo dengan rute: 
- Ojek Bandara-pelabuhan Speed Boat (pp)    : Rp. 60.000 
- Dari pelabuhan Kota Baru Ternate naik Speed Boat ke Sofifi dengan waktu tempuh 45 menit (tarif reguler Rp. 100.000) 
- Selanjutnya Dari Sofifi naik angkutan Darat/Mobil umum ke Tobelo Halmahera Utara dengan waktu tempuh 4 jam (Rp. 300.000) sudah banyak yang mengantri di pelabuhan speed tersebut begitu sampai di pelabuhan sofifi.
Speed Boat menuju sofifi
  Berhubung kami kebetulan berada di Halmahera utara, kami menggunakan kombinasi transportasi darat dan laut, perjalanan saya dan rekan rekan menuju ibukota Kabupaten Halmahera Utara yaitu Tobelo ditempuh kurang lebih 2 jam menggunakan transportasi umum.
Dari Tobelo menuju Morotai beberapa alternative pilihan disediakan:
1.      Speed Boat ke Morotai dengan waktu tempuh 1,5 jam (tarif Rp 150.000) setiap hari dan jam atau
2.    Kapal kayu ke Morotai dengan waktu tempuh 2,5 jam (tarif 60.000) setiap hari jam 11.00 WIT atau
3.   Kapal Ferry ke Morotai dengan waktu tempuh 2 jam (tarif Rp 35.000) setiap hari jam 10.00 WIT.
Kami memutuskan memilih menggunakan ferry dengan maksud untuk lebih menikmati perjalanan, saat di perjalanan kami mulai diikuti oleh gelapnya awan dan tiupan angin yang bersahut-sahutan serta diiringi tetes demi tetes air hujan.
Ada hal yang membuat saya kecewa yaitu dari perilaku masyarakat, saat berada di kapal ferry saat penyebrangan dari dan ke Morotai, penumpang kapal tersebut dengan santainya membuang sampah sisa kemasan makanan dan minuman ke laut.
Berikut beberapa tips agar kita bisa menjaga pantai dan laut kita bebas dari sampah:
1.       Kurangi penggunakan kantong plastik,
2.  Sebisa mungkin hindari minuman kemasan, beralih menggunakan botol minuman,
3.  Dalam perjalanan menggunakan moda transportasi laut, jangan membuang sampah ke laut, gunakan tempat sampah yang sudah disediakan,
4.     Khusus untuk traveler yang perokok, agar tidak meninggalkan jejaknya dipantai dan dimana-mana.
Begitu sampai di Pelabuhan Daruba di Morotai kami pun disambut dengan hujan yang cukup deras, api semangat untuk menjelajahi pulau ini yang tadinya berkobar-kobarpun mulai perlahan meredup tersiram air hujan.
Setelah kami memutuskan istirahat sejenak sembari menunggu hujan reda, kami mencari penginapan yang terletak tidak jauh dari alun-alun Morotai dan dekat dengan Pelabuhan speed yang akan kami gunakan keesokan harinya.
Kamipun berbincang bicang dengan penduduk sekitar penginapan untuk mendekatkan diri dengan kearifan lokal, kami bertanya-tanya tentang apasaja yang bisa kami kunjungi disini, banyak saran yang diberikan kepada kami, Begitu banyak objek wisata yang dapat traveler dijumpai hanya di Pulau Morotai ini, beberapa diantanya:
1.       Air Terjun Wayabula 
2.      Pulau kokoya
3.      Air Kaca
4.      Tanjung Gorango
5.      Air Terjun Bunga Kokota
6.      Landasan Pitu
7.       Pulau Kolorai
8.      Pulau Dodola, Pulau Surganya dari Morotai 
9.      pulau Zum-Zum
10.   Wisata Sejarah Perang Dunia II  (museum PD II).
Sebenarnya masih banyak lagi objek wisata yang belum disebutkan disini, yang pasti kalau ke morotai luangkan lah lebih banyak waktu agar semua tempat bisa terkunjungi.
Setelah awan mulai enggan meneteskan air nya ditanah morotai sore itu, kami pun mulai mencoba mengelilingi pulau ini, dengan menggunakan bentor (becak Motor) kendaraan yang sering digunakan oleh masyarakat Morotai, mulailah kami berwisata sejarah.
Pulau morotai menjadi saksi sejarah penting dari masa ke masa, sejak masa kejayaan kerajaan Islam Maluku, perang dunia ke-2, permesta, hingga perebutan irian barat, dimana pulau itu selalu menjadi pijakan peradaban manusia.
Morotai dulu digunakan sebagai basis pertahanan Jepang selama Perang Dunia II. Setelah itu, pulau ini diambil alih oleh Sekutu dan digunakan sebagai landasan pesawat untuk menyerang wilayah Filipina dan Borneo Timur. Tapi, jauh sebelum itu yaitu pada abad ke-15 dan 16, Morotai berada di bawah Kesultanan Ternate. Oleh karena itu, pulau ini menyimpan banyak guratan sejarah. Penduduk lokal di Pulau Morotai yang masih mengingat Perang Dunai II akan bercerita kepada Anda bahwa tahun 1944-1945 tempat ini merupakan lokasi pertempuran sengit dari puluhan pesawat tempur yang menderu ketika lepas landas dan mendarat di sepanjang Teluk Daruba. Puluhan ribu tentara bertebaran di setiap sudut pulau dan kapal angkatan laut berlabuh membawa pasokan kebutuhan harian tentara.
Selama Perang Dunia II berlangsung, pasukan Sekutu terus menempati Morotai hingga akhirnya Jepang menyerah tahun 1945 dan Pasukan Sekutu meninggalkan pulau tersebut. Sebelum meninggal pulau tersebut, pasukan Sekutu membakar semua bangunan yang mereka dirikan di Morotai. Kini, Morotai menjadi saksi sejarah Perang Dunia II. Ada banyak peninggalan perang seperti gua persembunyian, landasan pesawat, juga kendaraan lapis baja yang masih utuh walaupun berkarat. Salah satu gua yang terkenal bernama Nakamura, yang jadi tempat persembunyian para tentara Jepang setelah Pulau Morotai diambil alih oleh Sekutu. 'Nakamura' berasal dari nama tentara Jepang itu sendiri, yang konon bersembunyi di sana 30 tahun lamanya.
Sebagai daerah bekas Perang Dunia (PD) II, Morotai banyak menyimpan benda-benda sejarah. Salah satu diantaranya adalah bangkai tank Amphibi milik tentara sekutu yang kini dijadikan sebagai cagar budaya. 
Karena kami penasaran untuk melihat wisata sejarah tersebut kami meminta kaka pengendara Bentor tersebut menuju Museum Perang dunia Ke II, bertempat di pinggir laut, dan searah dengan Landasan Pitu, disana terdapat Monumen Trikora.

Monumen Trikora
 Namun yang sangat disayangkan saat kami berkunjung ke bangunan museum yang baru tersebut masih belum dibuka untuk umum, dan kata kakak Pengendara Bentor tadi kemungkinan belum semuanya peninggalan-peninggalan sejarah tersebut dipindahkan ke sana.
Setelah selesai mengabadikan beberapa Moment di kawasan ini, kamipun mulai mengalihkan langkah menuju situs-situs lain nya, dan berdasarakan rekomendasi pengendara Bentor yang kami tumpangi, destinasi bagus lainnya yang patut untuk dikunjungi yaitu peninggalan tank Amphibi.
Sesampainya disitus tersebut terdapat dua buah bangkai tank Amphibi yang berlokasi dipingiran pemukiman warga. Kedua bangkai tank Amphibi ini pun dibuat rumah-rumah untuk melindunginya. 

Bangkai Tank Amphibi
Bangkai Tank Amphibi
   Di sana, juga terdapat sinopsis sejarah singkat tentang bangkai tank amphibi yang dipajang disana. Agar para pengunjung bisa membaca referensi tersebut, karena semua informasi lengkap ditulis, mulai dari jenisnya, kepemilikan tank dan kapan mulai beroperasi dan mendarat di tanah indah Morotai.

Sejarah Singkat Amphibi
Seperti cerita dari masyarakat setempat, pada tahun 1980an, kedua tank ini masih lengkap dengan peralatan perangnya. Namun sekarang sudah tidak lengkap lagi.
Wisata sejarah kami akhiri, kamipun bergerak menuju dermaga Daruba untuk mencari speedboat untuk petualangan di laut esok harinya, setelah bertanya ke beberapa orang dan mendapatkan penawaran yang pas, kami dan motoris speed boat bersepakat perjalanan esok hari dimulai jam 07.00 WIT.
Setelah menyaksikan beberapa peninggalan perang yang terasa memilukan, dan mendapatkan speedboat untuk esok harinya, kamipun kembali menuju alun-alun morotai, dan disini traveler bisa mengabadikan beberapa moment dalam bidikan lensa.

Mengabadikan Momen Perjalanan
 Sore berakhir berganti malam, untuk sekedar mencari penganjal perut dan minuman hangat sebagai teman untuk mengakhiri malam pada hari pertama. Di alun alun ini saat malam hari bisa ditemukan minuman hangat (Air Goraka) dan pisang goreng.
Selesai mengisi perut dan menghangatkan badan, tak terasa waktupun berlalu dan jam ditangan sudah menunjukkan pukul 10.00 WIT, kami pun memutuskan untuk kembali ke penginapan mengistirahatkan tubuh dan mempersiapakan untuk perjalanan esok harinya.

***
Sesuai dengan jam yang sudah di sepakati kamipun menuju pelabuhan Daruba yang terletak tidak jauh dari penginapan.


Pelabuhan Daruba
Pelabuhan Daruba
Perlahan mesin speedboat mulai dinyalakan, dan kami segera bersiap siap, tujuan awal kami yaitu tumpukan pasir putih di tengah laut sama seperti saat berkunjung  ke Raja Ampat, sebelumnya. Tidak butuh waktu lama, ± 15 menit dari kejauhan terlihat lapisan memutih ditengah-tengah laut,
Pasir Putih yang Sudah Terlihat
 Semakin mendekat terlihatlah daratan dan hamparan pasir putih yang halus, tidak luas memang, tapi hamparan pasir putih sangat memanjaga mata.
Kontrasnya Warna Pasir Putih dan Air Laut
Disini traveler akan bisa melihat kontrasnya warna pasir dengan air laut yang juga memiliki beberapa tingkatan warna. Ombak yang cukup kuat pagi itu seolah senada dengan mendung yang mulai menyelimuti langit Morotai, warna yang kontras tidak hanya di air laut, langit seolah tidak mau kalah, awan gelap sudah mulai bergerak perlahan menutupi hangatnya cahaya matahari pagi itu.

Terlihat Matahari Masih Malu Untuk Muncul
Kamipun hampir mengurungkan niat untuk melanjutkan perjalanan, dikarenakan ombak cukup kuat, dan matahari masih malu malu menampakan dirinya, dan hanya sanggup mengintip dari balik gelapnya awan.
Setelah dirasa cukup mengabadikan beberapa moment di pasir timbul ini kami melanjutkan salah satu pulau eksotis di sini yaitu Daruba.
Pulau Morotai yang disebut sebagai 'Mutiara di Bibir Pasifik' Konon katanya disini pernah diadakan event Sail Morotai 2012 sebagai momentum dalam mengaktualisasikan semangat gerbang Pasifik.  Juga event Wonderful Morotai Island pada Maret hingga Desember 2016, dengan tujuan menggangkat wisata dari Maluku utara Dengan diadakannya acara ini, Kementerian Pariwisata (Kemenpar) berkeinginan mengembangkan Pulau Morotai menjadi tujuan wisata kelas dunia. Salah satu pulau yang ikut di promosikan adalah Dodola.
Sepanjang perjalanan menuju Dodola, kita akan disajikan pemandangan pulau pulau yang punya hamparan pasir putih yang menyejukan mata.
Perjalanan Ke Dodola
Perjalanan Ke Dodola
Dodola
Tampilan Dodola Pada Masa Jayanya
 Namun saat saya berkunjung ke Dodola, yang tertinggal hanya nama besarnya saja, tempat wisata ini seolah sudah tidak terurus, banyak sampah ditemukan dimana-mana, sangat disayangkan, padahal fasilitas di pulau ini sudah sangat lengkap, tersedia juga penginapan, beberapa wahana permainan air seperti banana boat, jet ski. 
Disebuah pohon didodola ada pesan menarik yang terpasang di sana, ya mungkin sesuai dengan kondisi Dodola saat ini, dipenuhi sampah yang mungkin terbawa arus laut.

Selamatkan Dodola
Saat kita berjalan menyusuri pasir putihnya jangan heran jika kita menemukan banyak sekali sampah.
Tumpukan Sampah Yang Merusak Keindahan Dodola
Tumpukan Sampah Yang Merusak Keindahan Dodola
Tumpukan Sampah Yang Merusak Keindahan Dodola
 Sangat disayangkan memang, pesona Indonesia yang luar biasa ini yang dahulunya digadang-gadang akan menjadi tempat wisata dunia, saat ini sudah tidak terurus dan terawat. Seolah di sini kita Cuma menyaksikan puing puing sejarah masa jayanya, Let’s save Dodola.
Waktu terasa berlalu cukup cepat disini, dan tidak terasa kamipun harus kembali ke Daruba, untuk mendapatkan jadwal Ferry ke Tobelo. Petualangan pun kami akhiri di sini, masih banyak yang belum dilakukan di sini seperti olahraga air Snorkling dan Diving. Karena keterbatasan waktu sehingga belum bisa terealisasi, kami berharap pada saat kunjungan berikutnya, Morotai secara keseluruhan sudah membaik dan kembali seperti masa-masa jayanya.
Kisah seperti inilah sebagai salah satu hikmah yang saya rasakan ketika Bujang di tanah perantauan (BUJANG RANTAU), bisa mengunjungi dan mengelilingi luasnya Pesona Indonesia. Rantau itu seluas langkah kaki, jelajahilah dan jangan takut melangkah, perjauhlah melangkah untuk bisa menjelajahi Indonesia. Jadi Masih takutkah untuk merantau?

Stop Buang sampah ke laut  - Be a 'responsible traveler' and respect for the destinations we visit.
Help sustain the natural and cultural beauty of a destination by leaving it untouch by reducing your use and waste of precious resources such as water, food and energy.

Sekian
Morotai, Maluku Utara,
Mei 2017
Abrar Analdi

Follow Me : 





Yogyakarta : Antara Rindu dan Akhir Untuk Cerita Lama

Tidak ada komentar


Goncangan rel kereta di stasiun kereta api Kiaracondong, Bandung begitu terasa, hingga membuat hati sedikit bergetar. Sedikit mengingat kembali perjalanan kami menembus indahnya kota Sultan Hamengkubuwono X.  Bukan tanpa alasan hati bisa terbawa ikut bergetar, Karena ke Yogya ada rindu yang akan dijemput. 

Bandung malam itu terasa dingin dari biasanya, kami mulai menuju Stasiun Kiaracondong, stasiun untuk kelas ekonomi, memang dari sinilah tujuan ke Yogya dengan biaya murah bisa dicapai, 2013, biaya perjalanan Bandung-Yogya bisa diatasi dengan lima puluh ribu rupiah. 

Kereta sudah mulai berjalan, meninggalkan Bandung untuk sementara waktu bukanlah masalah besar, kami memulai perjalanan dengan kereta malam, ingin merasakan sensasi berbeda di perjalanan kami kali ini. Dengan harapan sampai di Yogya subuh hari. 

Begitulah yang terjadi kelas ekonomi memang sudah seperti yang kami perkirakan, dengan bangku keras, AC yang terlalu dingin, penumpang yang berjalan silih berganti, berhenti di semua stasiun yang ada. Tetap kami teguh tidak mempersulit keadaan, tidak mengeluh, toh namanya juga perjalanan, kalau bukan untuk dinikmati lalu buat apa ? 


Perjalanan masih panjang, masih jauh dari kata sampai. Perut kamipun kerocongan, bekal yang dibawa Cuma roti dan cemilan kecil lainya, tidak menggugah selera kami sedikitpun, apa boleh buat, kita harus mencoba makanan apa yang dijual di kereta ini. Pilihannya tidak terlalu banyak, Hanya mie instan goreng, rebus dan nasi goreng. 

Semula, kami sempat ragu bagaimana masakan yang ada dalam kereta ini. Kami memutuskan mencoba mie goreng, walaupun kita sudah mengetahui rasanya tetapi mie ini terasa nikmat. Mungkin, efek dari semangat liburan. 

****

Sampai di Yogyakarta, melalui stasiun lempuyangan, pada subuh hari. Kami memutuskan untuk menunaikan ibadah subuh dan bersih-bersih sebelum memulai perjalanan kami. Berangkat dari masjid kami bersiap menuju perjalanan pertama kami, yaitu mencoba Trans Yogya yang pada waktu itu begitu favorit dikota ini.

Langkah Awal Menapaki Yogyakarta
Kurang lebih dari 20 menit kami berjalan kaki menuju Halte terdekat, akhirnya kami menemukan halten trans yogya. Kami cukup pagi sampai disana sehingga masih belum ada trans yogya yang melintas. Kembali, kami menunggu kedatangan Trans Yogya yang akan mengantar kami. 

Yogya begitu tenang pagi itu, suara burung-burung pagi begitu indah, mungkin nyanyian pagi mereka, sehingga membuat kami hanyut di ketenangan pagi kota Yogyakarta. Tak begitu lama akhirnya trans yogya yang kami tunggupun akhirnya muncul. 

****
Tujuan awal kami tidak lain adalah Candi Borobudur. Selalu masuk daftar wajib dikunjungi kalau kita ke Yogyakarta. Borobudur adalah salah satu warisan budaya paling terkenal. Bentuk dari pertemuan arsitektur masyarakat budha dan masyarakat jawa.
Kami memulai perjalanan di Borobudur disaat matahari sudah mulai menampakkan diri dengan berani menyambut kami. Pagi itu cukup panas, cukup membuat kami berkeringat memulai perjalanan di candi Borobudur.

Pintu Masuk Candi Borobudur
Terlihat arsitektur yang indah di awal pendakian tangga candi Borobudur, mata kami masih belum puas, pertemuan antara buddha dan jawa sungguh indah, siapa yang tidak tertarik kesini ? memang benar, kalau sempat ke kota Yogya tidaklah lengkap tanpa mengunjungi Candi Borobudur.
Wisatawan begitu ramai, menandakan Borobudur memang tempat favorit di kota ini. Bukan hanya lokal, wisatawan dari luar Indonesia begitu ramai disini. Kenapa bisa demikian ? kita bisa melihat indahnya Yogyakarta dari atas bangunan candi ini. Begitu menawan, cuaca panas-pun bisa kami lupakan dengan pemandangan indah ini.

View dari Ketinggian Borobudur

Turis di antara Stupa Borobudur

Matahari semakin tinggi, cuaca panaspun semakin menjadi jadi, mumpung masih siang, kami bersiap turun, bersiap menuju tempat selanjutnya, masih tempat wisata. Kami bersiap menuju situs purbakala berjarak 3 km disebelah selatan kompleks Candi Prambanan.  

****  

Saran dari masyarakat sekitar, sebaiknya dimulai dengan mengunjungi Kawasan Situs Ratu Boko/Baka sebelum ke prambanan, dikarenakan situs ini ditutup lebih cepat, Karena suatu kondisi dan lain hal. 

Kami memutuskan perjalanan menuju Ratu boko, di awal perjalanan kami, tidak pernah berpikir untuk kesini, Karena awalnya kami memang tidak mengetahui situs ini, atas saran masyarakat sekitar lah kami menuju kawasan ini. 

Dimulai dari pintu masuk kompleks prambanan, perjalanan menuju ratu boko memakan waktu sekitar 15 menit untuk sampai ke lokasi. Kami diantar menggunakan mobil elf yang telah disediakan oleh pihak pengelola. 

Angkuta Menuju Ratu Boko

Ratu boko memang indah, pada waktu kunjungan kami kesana, turis tidaklah terlalu ramai, seperti di Borobudur maupun di prambanan. Sepi dengan keindahan yang luar biasa, ratu boko memiliki keistimewaan sendiri di hati para pengunjungnya.
Pintu Masuk Kawasan Ratu Boko
Melalui pintu masuk yang masih berdiri kokoh, kami siap menyusuri komplek dan keindahan ratu boko, begitu banyak keindahan disana, puing puing candi yang sudah tidak tersusun rapi, masih ada beberapa kawasan candi yang masih kokoh.






Memiliki spot foto terbaik ratu boko sekarang sudah ramai dikunjungi, kami kesana dikala Instagram penggunanya belum serame sekarang, social media masih belum seheboh sekarang, jadi perbedaan ratu boko untuk saat sekarang ini bakalan terlihat jelas.
Meskipun hanya tersisa bongkahan puing-puing, keistimewaan tempat peristirahatan para raja dengan bukit dan pemandangannya yang indah. Kawasan ratu boko cukup wajib dikunjungi jikalau anda ke Candi Prambanan.

****  

Kami kembali ke Candi Prambanan, setelah melihat keindahan kawasan ratu boko. Menikmati candi di kalau senja dengan cuaca yang bersahabat, kesempurnaan kami di hari pertama di Yogyakarta terlengkapi.

Prambanan di kala Senja
Merupakan kompleks Candi Hindu terbesar di Indonesia, candi yang di persembahkan untuk 3 dewa hindu. Candi terindah di Asia Tenggara, memiliki arstektur yang benar benar indah, siapapun pasti tertarik   untuk berkunjung ke candi ini. Sehingga candi ini selalu ramai pengunjung baik lokal maupun, wisatawan luar.


Ramenya Pengunjung di Pintu Masuk Salah satu Candi
Nilai plus candi prambanan adalah dengan adanya museum, pengujung bisa mengetahui sejarah dari pembangunan candi hindu terbesar di Indonesia ini.




Senja mulai menampakkan diri, penghujung hari telah datang, perjalanan kami di hari pertama di Daerah Istimewa kami tutup dengan melihat keindahan prambanan di terpa matahari terbenam. #Indonesiaindah.
**** 
Bersambung, di postingan Selanjutnya 
Bujang Rantau, 
Yogyakarta, September 2013