Mari kita mengkaji rantau lebih dalam bersama kami di Blog Ini. Tidak usah sungkan, rantau bisa kita taklukan jika kita bersama.

Balada Si Roy (72)

Tidak ada komentar

"Kak, bangun, Kak!" Ahmad mengguncang-guncangkan tubuh Roy. Berulang-ulang dia melakukannya.

Roy menggeliat. Kayu nisannya terlepas. "Kamu, Ahmad," dia merasa terusik. Kantuknya menyerang lagi. Tidurnya memang belum lengkap.

Tidak jauh dari mereka, seorang gadis bersidekap. Sorot matanya penuh harap memandangi tubuh Roy. Gadis itu ramping bagai peragawati ibukota. Rambutnya yang hitam lebat mengkilap dikepang dua. Kulitnya putih bersih, jarang terkena debu jalan dan sengat matahari siang. Dia cantik sekali.

Dia adalah bidadari yang turun meluncur lewat pelangi. Seorang gadis menak, yang tidak akan pernah bercerita tentang kesusahannya kepada orang-orang. Dan mulutnya tidak akan pernah mencicipi makanan yang pahit-pahit.

Dia adalah gadis semata wayang yang dilahirkan di atas kekayaan dan kehormatan. Yang sudah terbiasa dininabobokan. Sekarang? Betapa hati gadis kepang dua itu berguncang, ketika menyadari kedua orang tuanya tewas dalam kecelakaan! Kini dia dihadapkan pada kenyataan hidup, menjadi seorang gadis yatim-piatu.
"Selamat siang," tiba-tiba mulutnya yang mungil basah terbuka. Suaranya bergetar. Dadanya berdebar.

Roy langsung terlonjak kaget begitu mendengar suara tadi. Dia meringis melihat ada bidadari berdiri di depannya. Buru-buru dia merapikan dirinya.
"Pagi, eh, siang juga," senyum nakalnya keluar juga.

Dia melihat Ahmad yang diam-diam memberi isyarat kepadanya. Jari-jari tangannya melukiskan lingkaran memanjang dua buah. lalu telunjuknya menunjuk ke arah bidadari yang berdiri cemas di depannya. Apaan, sih? dahi Roy berkerut.
"Kamu yang membersihkan kuburan Oomku?" tanya bidadari itu hati-hati. Sepertinya dia takut lelaki di depannya ini tersinggung.

Roy memandangi seluruhnya yang ada pada gadis kepang dua itu. "Ya, aku." Masih keheranan memandanginya. Lalu samar-samar dia mulai meraba isyarat yang dimaksud Ahmad tadi. Itu pasti ada hubungannya dengan dua buah kuburan yang masih baru.

Rani? Rani-kah bidadari ini? Dia meneliti lagi lebih saksama seluruhnya yang ada pada bidadari ini. Segalanya. Lalu dia merasa seperti pernah mengenalnya. Pernah melihatnya. Bahkan... pernah membencinya.
"Jadi..., betul kamu?" bidadari itu belum percaya.
"Ya, aku," mata Roy mulai menghunjam perasaannya. "Lantas, kenapa?"
"Nggak..., nggak apa-apa," suaranya jadi gugup.
"Kuburan itu merusak. keindahan," Roy tampak gelisah. "Makanya aku bersihkan."
"Kamu..., kamu siapa?"
"Aku bukan siapa-siapa," Roy mempermainkan kayu nisannya. "Aku hanya petualang jalanan, yang kebetulan tersesat ke sini. Yang kebetulan merasa nggak enak melihat ada kuburan diperlakukan tidak adil," kalimatnya mendesak perasaannya.
Roy menatapnya tajam. Mereka akhimya saling pandang. Saling menyelami, menggali, dan membongkar peristiwa sepuluh tahun ke belakang, ke sebuah drama yang menakutkan.
Roy tiba-tiba mengatupkan gerahamnya.
Bidadari itu tertunduk, menggigiti bibirnya.

Mereka kini sedang bergelut dengan badai di hati masing-masing. Sementara Roy dengan dendam dan lukanya, gadis kepang dua itu larut dalam penyesalan yang berkepanjangan.

Sebenarnya. begitu Roy menyadari gadis kepang dua ini putrinya Tuan Budi, dia ingin betul merangkulnya, karena dialah saudara perempuannya! Tapi ketika itu pula muncul desakan lain yang melemparkannya ke drama menyakitkan itu.
"Kamu Rani?" ragu-ragu Roy bertanya.
"Ya, akulah gadis kecil tak tabu diri itu."
"Betulkah?" Roy masih belum yakin. "Gadis kecil yang menyemprot aku dan mamaku dengan air ledeng?!" kini suaranya mulai tinggi.
"Ya, akulah gadis kecil itu," Rani terisak-isak.
"Juga yang menyuruh kawan-kawan kecilmu memuntahkan kue-kue jualanku?!" Roy mencekal bahunya. Mengguncang-guncang tubuhnya dengan kasar dan gemas.
"Ya, aku," tangisnya meratap.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar