Mari kita mengkaji rantau lebih dalam bersama kami di Blog Ini. Tidak usah sungkan, rantau bisa kita taklukan jika kita bersama.

Frozen in Time

Tidak ada komentar

Berkunjung ke Sri Lanka seperti masuk ke mesin waktu yang membawa kita ke masa silam. Negeri di selatan Asia ini menyimpan istana-istana kuno, kuil berisi patung Buddha raksasa, dan benteng tua yang bertengger di atas bukit. Ina Hapsari menceritakan pengalamannya.

Macan Tamil, itu asosiasi yang muncul di benak saya begitu nama Sri Lanka disebut. Negara kepulauan di tenggara India ini memang sudah lebih dari tiga dekade berperang dengan Liberation Tigers of Tamil Eelam (LTTE) yang ingin mendirikan negara sendiri. Baru pada 18 Mei lalu, pemimpin pemberontak berhasil dibedil, sebuah momentum yang didaulat rakyat Sri Lanka sebagai hari kemerdekaan nasional kedua. Saya beruntung bisa mengunjunginya tidak sampai dua bulan pasca kejadian bersejarah itu.

Hari menjelang petang saat pesawat saya mendarat di Bandaranaike International Airport, Kolombo. Di landasan terlihat kapal-kapal tempur Angkatan Udara Sri Lanka. Negara ini agaknya masih dalam status waspada. Beberapa petugas SriLankan Airlines mengenakan sari hijau bermotif bulu merak tampak berseliweran di dalam terminal guna membantu penumpang.
Sebuah layar televisi ramai disemuti orang. Kumar, pemandu dari Jetwing Travels, mengatakan hari ini sedang digelar pertandingan kriket antara tim nasional Sri Lanka melawan Pakistan.

Olahraga warisan penjajah Inggris ini bisa dibilang merupakan agama kedua bagi warga Sri Lanka, seperti sepakbola untuk orang Italia (atau mungkin Indonesia). Tak heran, setiap ada pertandingan akbar, terlebih jika digelar di negeri sendiri, perhatian warga pasti akan tersedot ke layar kaca. Bahkan bolos kerja untuk menonton kriket bisa dimaklumi.

Di luar bandara, beberapa tentara yang memanggul senjata terlihat mondar-mandir. Awalnya saya sedikit was-was, namun senyum bersahabat yang mereka sunggingkan cukup menenangkan saya. “Kita akan sering melihat mereka di seluruh Sri Lanka,” ujar Kumar santai. Memang tak perlu takut berlebihan, kita hidup di zaman teror, di mana pun kita berada. Orang bisa sarapan lagi di Ritz-Carlton Jakarta meski gembong teroris belum tertangkap, warga Amerika sudah berkantor di New York walau Osama masih berkeliaran, kenapa harus takut berwisata ke Sri Lanka setelah bos pemberontak tewas?

Kami meluncur ke arah timur menuju Sigiriya yang terletak di Provinsi Central. Belum ada jalan tol di Sri Lanka. Rombongan sapi bisa menyeberang seenaknya, dan kadang bajaj atau bus menyalip semaunya. Kondisi lalu lintas memang ruwet, namun jalan-jalan kotanya mulus tanpa lubang.

Saya kagum mendengar cerita Kumar tentang pemerintahnya yang secara penuh memberikan akses pendidikan dan kesehatan bagi rakyatnya. “Biaya pengo-batan di rumah sakit umum serta pendidikan di sekolah negeri hingga bangku universitas gratis untuk semua warga,” katanya. Populasi Sri Lanka hampir setara Australia, sekitar 21 juta jiwa, tapi negeri ini berani menerapkan kebijakan yang lebih berpihak ke rakyat meski GDP-nya cuma $38 miliar, jauh di bawah Negeri Kanguru yang mencapai $1 triliun.

Pos-pos militer berdiri di jalan-jalan sebagai area “pit stop”, yakni semacam check point yang akan memeriksa kendaraan yang lewat. Sopir saya memperlambat laju kendaraan di tiap pos yang dilewati. Selebihnya, bus dipacu laksana sedang mengikuti reli.

Ayubowan, sapaan khas Sinhala, etnis mayoritas Sri Lanka, menyambut kami di hotel. Kami langsung menuju restoran untuk mengisi perut. Menu yang disajikan adalah seeni sambol yang dimasak langsung dalam wadah tanah liat oleh seorang perempuan bersari di sudut restoran (mayoritas perempuan Sri Lanka masih setia mengenakan baju sarinya). Bentuknya mirip serabi Solo, tapi rasanya seperti apem. Dengan bentuk serupa, ada hoppers yang hadir dengan telur dan bumbu kari. Kue-kue ini menurut Sanjee, Food & Beverage Manager Chaaya Village, biasa dinikmati sebagai light breakfast. Untuk porsi yang lebih besar, tersedia parota yang mirip roti cane; milk rice, nasi uduk tawar yang dibentuk kotak; atau string hopper yang seperti bihun dan dirangkai bulat. Semuanya bisa dinikmati dengan aneka lauk berkuah kari. Masyarakat Sri Lanka terbiasa menyantap masakan pedas bahkan di pagi hari.

Sri Lanka menyimpan banyak situs berseja rah yang terdaftar dalam World Heritage Site UNESCO. Salah satunya adalah Polonnaruwa, ibukota kedua kerajaan kuno Sri Lanka di abad XI-XIII. Kami melalui waduk Parakrama Samudra yang dibangun pada 386 untuk keperluan irigasi.



Areanya sangat luas (22,6 kilo meter persegi) hingga awalnya saya kira laut. Angin yang berembus kencang membuat permukaan air berombak. Waduk ini diperluas pada 1153-1183 oleh Raja Parakramabahu dari Polonaruwa. “Tidak ada setetes air hujan pun yang boleh berlalu begitu saja ke lautan tanpa dimanfaatkan untuk keperluan manusia,” demikian titahnya.

Area kerajaan kuno Polonnaruwa menyimpan sisa-sisa reruntuhan bangunan dari banyak era. Kami menuju kompleks reruntuhan istana raja pertama Vijayabahu I yang konon memiliki 1.000 kamar. Setelahnya, enam raja bergantian menghuni istana ini dari 1153-1186, termasuk Parakramabahu yang berjasa membangun waduk Parakrama Samudra. Istana yang terbuat dari bata merah ini nyaris habis terbakar dalam salah satu serangan pasukan Chola.

Di kompleks lain berdiri Thuparama Temple yang sebagian bangunannya juga hancur akibat serangan Chola. Kuil berlangit-langit tinggi ini menjadi rumah bagi patung Buddha berbahan marmer. Ada pula Atadage, kuil dengan banyak pilar yang sempat digunakan untuk menyimpan gigi Buddha. Tapi yang paling menarik buat saya adalah Vatadage, bangunan religius yang bentuknya seperti colosseum dan menyimpan lima stupa Buddha.


Tidak ada komentar :

Posting Komentar