Mari kita mengkaji rantau lebih dalam bersama kami di Blog Ini. Tidak usah sungkan, rantau bisa kita taklukan jika kita bersama.

Apa Penyebab Kegagalan Persib?

Tidak ada komentar
Lima belas tahun sudah Persib Bandung puasa gelar di kompetisi tertinggi sepakbola nasional. Tim berjuluk Maung Bandung itu terakhir kali menjadi penguasa di tanah air ketika edisi perdana Liga Indonesia digelar, tepatnya pada musim 1994/95 dengan mengalahkan Petrokimia Putra di partai puncak melalui gol semata wayang Sutiono Lamso di Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta. Di level Asia, Persib bahkan pernah menyentuh babak perempat-final Piala Champions AFC.

Namun semua kejayaan yang pernah dikumpulkan Persib saat ini bagaikan ilusi di padang pasir. Mengagungkan kehebatan masa lalu adalah tindakan keluar dari kenyataan.

Selepas era keemasan Robby Darwis dkk, Persib sulit berprestasi, bahkan pada tahun 2003 Persib hampir saja terlempar ke kasta kedua sepakbola nasional, beruntung Sang Pangeran Biru selamat usai melakoni babak play-off di Solo.

Dalam tiga musim terakhir, Persib selalu berjaya di putaran pertama, namun di putaran kedua kekuatan mereka seolah-olah lenyap tak berbekas hingga di akhir kompetisi Persib harus puas menyandang status sebagai tim papan atas tanpa gelar juara. Entah kutukan apa yang tengah dihadapi oleh tim Biru-Putih tersebut.

Untuk urusan dana, Persib boleh jumawa karena bisa dikatakan hampir tidak pernah mengalami kesulitan. Tanpa prestasi lebih dari satu dasawarsa pun tidak membuat Persib kesulitan mencari sponsor. Sebagai bukti, dua musim terakhir jersey Persib selalu bertaburan logo sponsor dan layaknya sebuah tim profesional, hingga kini mereka tidak lagi menyusu pada kucuran APBD.


Kemampuan finansial di atas rata-rata tentu saja memudahkan Maung Bandung menggaet pemain lokal berstatus bintang atau memboyong legiun asing berkualitas. Sebut saja nama-nama langganan skuad Merah-Putih mulai dari Charis Yulianto di lini belakang hingga Budi Sudarsono di sektor depan pernah memperkuat tim ini. Belum lagi deretan pemain asing papan atas seperti mantan kapten timnas Kamerun U-23 Christian Bekamenga hingga penyerang legendaris "El Loco" Gonzales dihadirkan akan tetapi kehadiran mereka tak juga mampu menuntaskan dahaga gelar
bobotoh.

Fasilitas tim yang dimiliki Persib pun tak kalah mentereng. Renovasi besar-besaran Stadion Persib yang dulu bernama Sidolig plus mess pemain dikembangkan dan sudah dihuni sejak pertengahan 2008. Untuk menambah gengsi dan kebanggaan, bus khusus Persib Bandung disediakan oleh manajemen.



Lalu apa yang kurang dari Persib? Dana, pemain, pelatih, dan fasilitas memadai sudah dimiliki tetapi prestasi tak juga menghampiri. Apakah faktor non-teknis? Mental? Kalau ya, mental siapa? Manajemen, pemain, atau mungkin pendukung?

Sepakbola di Bandung memang begitu membudaya, mungkin bisa dikatakan nomor satu di Indonesia. Dukungan melimpah tidak hanya hadir dari kota Bandung, Pangeran Biru memiliki basis pendukung besar di semua kota Jawa Barat. Belum lagi perhatian besar dari media baik lokal maupun nasional membuat nama Persib begitu melambung hingga memiliki daya jual tinggi.

Meski demikian, perhatian besar publik terhadap Persib bisa menjadi bumerang. Harapan menggunung dan menjulang tinggi dari publik agar Persib berprestasi setiap musim dan meraih kemenangan di setiap pertandingan seakan menjadi beban besar yang hinggap di setiap punggawa tim.

Kritikan habis-habisan bahkan cercaan akan dituai setiap kali tim bermain buruk, sebaliknya tidak jarang puja-puji yang bisa membuat semua orang bak berada di langit ketujuh didapat kala mereka tampil istimewa. Semua bereuforia ketika menang dan seperti mengecilkan arti perjuangan ketika tim gagal meraih hasil yang diharapkan. Tentu saja hal ini akan memberikan tekanan tersendiri khususnya pada pemain.

Belum lagi overlap yang kerap dilakukan dari internal tim. Dari praktik sekadar mengomentari hingga ikut mengkritisi strategi dan komposisi pemain yang diturunkan pelatih kerap terjadi dan sudah menjadi rahasia umum.

Persiapan Persib di awal musim Superliga 2010/11 pun tidak berjalan mulus. Kisah perseteruan antara pelatih asal Prancis Darko-Daniel Janackovic dan manajemen terkait proses seleksi pemain menghiasi media. Puncaknya terjadi perselisihan antara pelatih dan pemain saat training camp (TC) di Cirebon yang diikuti aksi mogok berlatih para punggawa Persib.

Rumor beredar peraturan disiplin tinggi termasuk larangan penggunaan telepon genggam oleh pelatih selama TC terhadap pemain menjadi salah satu hal yang dikeluhkan. Manajemen bertindak cepat dan menjernihkan suasana dengan menyebutkan kegagalan pelatih beradaptasi dengan budaya lokal sebagai penyebab pertikaian. Buntut dari peristiwa ini? Manajemen memecat pelatih.

Pelatih jenius sekaliber Jose Mourinho yang kini menghadapi tekanan dan tantangan berat untuk mengembalikan kejayaan Real Madrid di Eropa pernah berkeluh kesah dengan mengatakan dirinya saat ini hidup di sebuah negara berisi 50 juta pelatih. Hal tersebut tentu saja dia ungkapkan sebagai reaksi karena timnya kerap dikuliti habis-habisan bahkan pernah diintervensi oleh pihak-pihak yang merasa paling pintar dan benar.

Memang terlalu berlebihan jika membandingkan Persib dengan Real Madrid, akan tetapi situasi kedua klub kurang lebih sama; selalu berada dalam tekanan tinggi dari semua pihak termasuk pendukung tim dan sudah lama tak mengecap gelar juara ketika segala sarana dan prasarana sebagai syarat menuju tangga juara tersedia di depan mata.




Lalu apa yang salah dengan Persib? Sampaikan Komentar Anda Disini,,,


Tidak ada komentar :

Posting Komentar