Mari kita mengkaji rantau lebih dalam bersama kami di Blog Ini. Tidak usah sungkan, rantau bisa kita taklukan jika kita bersama.

Kenapa dinamai Bujang Rantau !!!!

Tidak ada komentar


Menguak. Kenapa All-Items Diganti Dengan Bujang Rantau !!!!


Rumah Gadang tidak Berpenghuni Nagari-Nagari kian 'Kesepian'

SUASANA lengang menghantui nagari-nagari (desa) di setiap pelosok Sumatra Barat (Sumbar) kini. Kesepian itu semakin terasa, begitu melihat banyak rumah gadang yang tak berpenghuni, sebagian sawah dan ladang tak digarap.

Mayoritas kampung hanya dipenuhi orang-orang tua yang berambut putih serta anak-anak kecil. Bertanyalah kepada penduduk di sana, mengapa sunyi? Mereka akan menjawab, sebagian besar warga pergi merantau.

Nagari Kotogadang di Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, misalnya, paling banyak hanya dihuni 2.000 jiwa.

Jumlah penduduk nagari yang terletak di pinggir Danau Maninjau, sekitar 150 km dari Kota Padang itu, diperkirakan hanya seperempat dari orang asal Kotogadang yang kini sudah tinggal, lahir, dan bermata pencarian di rantau.

Keadaan hampir sama terjadi di lima ratusan nagari lainnya.

Sosiolog Mochtar Naim mengatakan merantau sebagai lembaga sosial yang membudaya, untuk meninggalkan kampung halaman dengan kemauan sendiri, dengan tujuan mencari penghidupan, menuntut ilmu, atau mencari pengalaman. "Biasanya, dengan maksud kembali pulang," kata anggota Fraksi Utusan Daerah MPR tersebut.

Dalam buku Merantau Pola Migrasi Suku Minangkabau, Mochtar menulis alasan terbesar orang Minangkabau pergi merantau karena persoalan ekonomi. "Karena kesulitan ekonomi di kampung, orang Minang pergi mencari lowongan pekerjaan di rantau," katanya. Alasan lain, karena melanjutkan studi dan pendidikan. Juga, akibat alasan sosial, semisal sistem sosial yang tertutup dan juga tekanan adat. Yang menarik, akibat alasan kejiwaan, untuk mengikuti tradisi merantau.

Merantau memang punya filosofi dalam adat Minangkabau sebagai: Karatau madang di hulu, babuah babungo balun. Marantau bujang dahulu, di rumah baguno balun, (pohon karatau dan madang di hulu, berbuah belum berbunga. Merantaulah bujang dahulu, di rumah belum berguna).

Menurut Yusriwal, dosen Sastra Daerah Universitas Andalas, arti pepatah adat di atas, seakan mewajibkan orang Minang yang sudah dewasa untuk merantau. "Ini, jika mereka di rumah (lebih luasnya di kampung) belum dapat berbuat yang berarti," katanya. Nanti, setelah berilmu kembali pulang untuk membangun kampung.

Budayawan Hawari Siddik menilai filosofi merantau Minang sudah tidak sesuai dengan kondisi yang terjadi kini.

"Sekarang orang merantau karena melarikan diri, mencari hidup. Mereka merantau ke China, bukan untuk mencari pengalaman," katanya. Sebagian besar kaum perantau itu, menurut dia, tidak ada yang akan kembali ke kampungnya. "Saya memprediksikan, satu atau dua generasi lagi, nagari-nagari itu tidak akan lagi berpenghuni," kata mantan Pembantu Gubernur Wilayah III Sumbar tersebut.

Gerakan pulang basamo yang rata-rata digelar selepas lebaran, menurut Hawari, tak lebih dari kegiatan hura-hura. Kalaupun ada kontribusi, hanya untuk pembangunan fisik. "Sedangkan kampung makin sepi. Tanah banyak yang tak produktif, pemudanya lari dari kampung," katanya.

Akan tetapi, menurut dia, masyarakat tak bisa disalahkan dalam kondisi ini. "Mereka melihat tak ada janji apa-apa dari daerah ini," katanya. Hawari menilai pemerintah daerah (pemda) tidak punya program untuk membangkitkan kegiatan usaha di kampung. "Mestinya, ada berbagai kemudahan untuk membantu modal usaha," katanya

Tidak ada komentar :

Posting Komentar