Mari kita mengkaji rantau lebih dalam bersama kami di Blog Ini. Tidak usah sungkan, rantau bisa kita taklukan jika kita bersama.

Gunung Talang : Keindahan Menembus Langit Ranah Minang

Tidak ada komentar



Lajur Aia Batumbuak siang itu hening, sunyi dan sepi, memperlihatkan suasana yang tidak bersahabat. Saya memulai kembali kenangan berkunjung ke gunung kebanggaan warga Solok ini. Dengan suasana cerah pendakian pertama saya di sumatera ini siap untuk dimulai. Berbekal peralatan sederhana, saya dan beberapa teman siap untuk mencoba menaklukkan Gunung Talang. 

Bersama Team Ondeh Mandeh Travelling Menuju Pendakian
Beberapa genangan terlihat dilajur pendakian yang kami pilih ini, seperti masih baru, mungkin Karena beberapa hari lalu turun hujan di lajur ini, dengan kondisi jalan setapak yang ada genangan tidak menyurukan keinginan kami untuk melihat keindahan Gunung Talang.
Dengan membawa ransel berisikan kamera dan bahan persedian camp kami, menambah tantangan untuk menaklukan salah satu gunung di Sumatera Barat ini.
Hamparan kebun teh disepanjang perjalanan kami menambah semangat dan menimbulkan berbagai macam persepsi seperti apa keadaan diatas sana, sedangkan dilajur perjalanan saja kami sudah disunguhi keindahan kebun teh yang indah dan sejuk.
Hamparan Teh
Perjalanan mulai terasa melelahkan menjelang pintu masuk I, matahari sedang berani beraninya untuk menampakkan diri ke kita, seperti memberi semangat untuk tetap berjalan dengan cepat. Udara panas dan sejuk seperti memberikan kebimbangan kepada kami, apakah pulang ataukah dilanjutkan.
Terik matahari mulai kembali beraksi, mengeluarkan Sinar yang semakin tajam, tak segan segan membakar kulit kami. Tapi kebahagian kami untuk tetap sampai ke puncak gunung ini seperti membuat tubuh kami ingin melawan sinar matahari tersebut.
Perjalanan membelah jalan yang penuh kerikil sebelum masuk ke pintu masuk lajur pendakian ini sedikit terasa, Karena sepatu yang kami gunakan merasakan kerikil dijalan semakin keras. Efek panas dan Lelah semakin membuat kerikil menjadi semakin tajam menusuk sepatu kami.
Setengah jam perjalanan kami masih belum menemukan titik awak pendakian. Semangat kami yang awalnya menggebu gebu semakin berkurang diterpa panasnya terik matahari siang itu.
****
Melewati titik awal pendakian akhirnya kami bersiap melanjutkan perjalan memasuki jalan tanah menuju ketinggian gunung talang ini.
Lajur aia batumbuak ini sangat cocok untuk para pendaki pemula untuk belajar mecintai alam, dengan jalan yang tidak terlalu menanjak, suasana sejuk dengan anginnya yang bertiup malu malu, membuat kita tidak akan merasakan kelelahan kala melakukan pendakian.
Gunung Talang masih berkategori sebagai gunung berapi aktif yang tercatat terakhir meletus pada tahun 2007. Kawah dari gunung yang berketinggian 2.597 meter di atas permukaan laut (mdpl) masih mengepulkan asap belerang.
Seperti menjadi primadona terbaru buat para pendaki, gunung talang dengan ramah menyambut kami, tidak ada setetes hujan pun yang turun menemani kami melalui pendakian ini.
Lajur yang bersahabat untuk pendaki pemula
Selang beberapa lama melakukan perjalanan, pertanyaan pertanyaan konyol mulai muncul dibenak kami, sejauh apa lagi ? apakah kita di lajur yang benar ? Air mineral yang kami bawa mulai berangsur berkurang, teman-teman mulai menampakkan wajah kelelahan, tidak masalah kami cukup istirahat sebentar sebelum melanjutkan perjalanan lagi.
Tempat istirahat dengan View yang Indah
Kurang lebih 15 menit kami beristirahat, semangat kami kembali membara untuk menaiki gunung ini, kami kembali memulai perjalanan. Setelah menempuh perjalanan sekitar 3 jam kurang lebih, akhirnya kita sampai di Camping Ground Gunung Talang.
Camping Ground
Benar, Gunung Talang sangat bersahabat dengan kami, sesampainya kami di Camping Ground hanya berdiri 3 buah tenda para pendaki, kami datang diwaktu yang tepat. Menikmati alam dengan keadaan sepi merupakan sebuah anugrah yang luar biasa.
Kami beristirahat dengan mendirikan tenda dan mengisi stamina lagi dengan makan siang di camping ground, tidak lupa kami sholat Dzuhur dan Ashar sebelum makan, mengucapkan rasa syukur ke Yang Maha Kuasa, memberikan kemudahan kepada kami dalam perjalanan ini.
Tenda Istirahat Kami

Mengucap Syukur ke Yang Maha Kuasa
Berwudhu di air aliran gunung talang membuat wajah kami kembali segar, air yang jernih ditambah sejuknya air ini membuat semangat kami kembali meningkat.
Dari camping ground pun gunung talang sudah terasa indah, membuat kami betah bercerita menghabiskan segelas kopi yang sudah tersaji oleh team ondeh mandeh. Sore itu kami memutuskan untuk menuju puncak keesokan paginya. Sore ini kami akan menghabiskan film dikamera untuk mengabadikan keindahan gunung terfavorit ke dua di sumatera barat ini.

View Danau Talang dari Camping Ground
Mekar di Talang

Fadhli Salah satu Anggota Ondeh Mandeh Travelling dengan View Danau Talang
Senja sudah muncul, matahari mulai menenggelamkan diri, akhirnya kami dan beberapa para pendaki lain mulai menikmati malam di camping ground gunung talang, dengan ambisi besok pagi akan menyelesaikan perjalan kami.
Tidak disangka embun di talang mulai membasahi tenda kami, anginnya semakin kencang bertiup, suasana yang damai mulai terusik, dengan kencangnya angin . jaket dan kaos kaki yang kami pakai tidak cukup kuat untuk menahan dinginnya suasana di malam itu.
Tanpa berpikir panjang lagi, kami akhirnya keluar dari tenda, mulai menghidupkan api unggun untuk menghangatkan diri, prosesnya tidaklah mudah, angina yang bertiup semakin kencang membuat beberapa kali api yang kami hidupkan padam lagi.
Akhirnya Api unggun kami pun siap, beberapa rekan lainnya menyiapkan air untuk direbus, tidaklah salah kan kalo kami ingin menambahkan kehangatan dengan segelas kopi ? dingin yang menusuk membuat kopi menjadi sesuatu yang sangat mewah. 

Suasana di Malam Dingin
Akhirnya setelah keadaan kembali tenang, kami memutuskan istirahat, mengingat besok kami harus melanjutkan perjalanan menuju puncak Talang.

****

Pagipun muncul, matahari mulai malu-malu untuk menampakkan diri, merasakan kehangatan matahari langsung merupakan suatu anugrah yang sangat indah.
Sunrise di Talang

Nikmat Tuhan Manakah yang Engkau Dustai ?

Jam sudah menunjukkan pukul 08:00 kami mulai kembali berunding, bagaimana ? apakah siap untuk berangkat ?.
Setelah berdiskusi kami memutuskan perjalan cukup sampai disini, kami tidak bisa melanjutkan ke puncak Karena sesuatu dan lain hal, yang tidak bisa dijelaskan. 

***

Kami memutuskan jam 11:00 kami akan turun, semalam di talang sudah membuat kami puas, “maka nikmat tuhan manakah yang engkau dustai ?”. cukup sampai di camping ground, kami pamit ke para kawan kawan pendaki lainnya untuk turun.
Bersama Kawan Kawan di Camping Ground
Kami berterima kasih kepada Gunung Talang dan keindahanya telah memberikan kami cerita yang akan kami sampaikan ke orang lain, bahwa ada Gunung Indah di negeri kita.
Menuruni gunung tidak seberat melalukan perjalanan pendakian. Sesuatu yang bisa diingat di perjalanan ini adalah para pendaki sumbar memiliki keramahan tersendiri dengan panggilan “pak”.
Waktu menulis ini sedikit ada tetesan di air mata, mengingat apakah gunung ini akan lestari saat saya tua nanti ?

Datanglah Ke Talang di Kala Sepi
Sekian, Bandung 27 Juli 2017
Alfariqi Analdi

Tidak ada komentar :

Posting Komentar