Mari kita mengkaji rantau lebih dalam bersama kami di Blog Ini. Tidak usah sungkan, rantau bisa kita taklukan jika kita bersama.

Merantau, Perjuangan Menyelaraskan Cinta Dan Cita

Tidak ada komentar

Merantau, kata yang tidak asing didengar dan sangat sulit terpisahkan jika kita membicarakan “Orang Minang” Selain dari pembahasan mengenai kulinernya spectakuler yang sudah terkenal ke seluruh penjuru negeri, ataupun adat dan budaya yang khas, serta garis keturunan yang spesial di Indonesia yang konon katanya hanya ada di Ranah Minang.
Pola hidup merantau masyarakat dari salah satu etnis terbesar di barat pulau Sumatra ini seperti sudah menjadi stigma yang melekat erat dalam kehidupan masyarakatnya, atau bahkan mungkin sudah menyatu dengan aliran darah pada setiap pembuluh darah masyarakatnya.
Merantau memang suatu kata yang terkadang berat untuk dilaksanakan, dengan merantau, kita harus keluar dari zona nyaman yang kita punya selama ini dan kita juga harus sudah siap untuk terjadinya perang batin yang susah untuk ditolak  yaitu dilema antara cinta dan cita.
Hidup memang tentang pilihan bukan? Pastikan pilihan yang sudah kita ambil memiliki tujuan, dan setelah yakin dengan pilihan dan tujuan, jangan pernah takut untuk menghadapi segala resikonya. Bicara mengenai merantau dan Cinta, Ya cinta, kita harus siap berpisah dengan orang-orang tersayang demi mewujudkan cita-cita untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Entah itu karena perbedaan jarak atau mungkin perbedaan waktu.


  Petualangan saya menapaki tanah rantau pun dimulai sejak digenggamnya ijazah perguruan tinggi di tangan,  tanah rantau yang pertama saya jajaki adalah sebuah kota gemerlap, dan penuh kebebasan, Kota Batam, kota dipulau kecil ini terasa begitu bebas jika dibandingkan dengan kampung halaman,
Hidup jauh dari keluarga memang membuat saya merasakan kebebasan dan belajar tentang kemandirian yang sesungguhnya, namun kerap merasakan perang batin tentang rindu dan juga rasa malu karena belum bisa meraih mimpi-mimpi yang dimiliki, walaupun sebenarnya keluarga tidak akan mempermasalahkannya.
Namun saat jadi perantau bukan berarti selamanya merasakan yang enaknya terus, tentu ada pergolakan batin setiap kali rasa rindu dengan rumah itu muncul, bagaimana tidak berkumpul dengan keluarga dan orang orang tersayang jelas menjadi sebuah impian paling sederhana namun sangat sulit untuk diwujudkan.

Home Sweet Home
Ada juga masanya saat kondisi tubuh menurun atau sedang tidak enak badan, ingin sekali rasanya ada yang memperhatikan dan merawat, namun sebagai perantau harus sudah terbiasa tidak ada yang merawat ketika sakit. Berjauhan dari orang tua membuat saya harus bisa menjaga diri sebaik baiknya. Namun ketika sakit ingin rasanya berkeluh kesah dan dirawat dengan belaian tangan orang tua, sayangnya itu tidak bisa terjadi, hanya sebatas angan angan belaka karena tidak ingin membuat orang tua dirumah khawatir.
Menjadi perantau jelas jarang merasakan makanan-makanan enak, mungkin hanya awal bulan, atau acara acara kantor atau atau bahkan acara teman yang sesekali bisa menjauhkan dari makanan makanan instan, karena pengelolaan uang saku memang harus benar benar dilakukan untuk hidup aman, bukan berarti pelit.
Walaupun punya kesempatan makan enak pada acara acara tersebut tetap tidak akan pernah bisa mengalahkan kenikmatan masakan ibu dirumah. Jujur saja, anak mana sih yang tidak mengatakan masakan ibu mereka adalah yang paling nikmat didunia???

Memasak Sendiri Saat di Perantauan, disaat Merindukan masakan Ibu
 Saat diperantauan ada kalanya diserang dengan sepi dan kerap merasa sendiri. Mungkin rasa sepi sedikit terobati kala berkumpul bersama dengan teman teman atau sedang dalam kegiatan, sesaat rasa sepi seolah menguap, namun sekembalinya ke tempat kost atau kontrakan mulailah rasa sepi itu kembali menyerang.
Berada jauh dari kota kelahiran, tak memiliki saudara sebagai tempat untuk dikunjungi sesekali terasa sangat menyiksa, dan hampir muncul dalam tiap doa, agar segera bisa pulang ke kampung halaman untuk berkumpul dengan orang-orang yang disayang, sehingga tidak lagi merasa sendiri dan terasing.
Tahun pertama ditanah rantau adalah tahun-tahun tersulit saat merantau, sehingga cukup untuk menjadi pribadi yang lebih kuat dan berani dari sebelumnya, Setelah dirasa cukup menaklukkan tantangan di tanah melayu ini, ingin rasanya merasakan tantangan dan petualangan yang lebih dan lebih, tanah rantaupun diperjauh menuju Ibukota, yang katanya lebih kejam dari Ibu Tiri.
Sesampainya digemerlap ibu kota ternyata jauh dari apa yang dibayangkan, kerasnya kehidupan ibu kota memaksa saya untuk menjadi pekerja keras yang menghabiskan banyak waktu ditempat kerja, kemacetan dan lain sebagainya menambah kepenatan setiap kali berangkat dan pulang kerja. Ingin rasanya bisa sesering mungkin pulang ke kampung halaman untuk melihat orang orang tersayang. Tapi beban dari pekerjaan seakan tidak pernah habis.
Jadi perantau yang tidak bisa sering sering pulang seenaknya tentu saja memaksa menimbun rasa rindu, wajah orang orang tersayang dikampung halaman hanya menjadi hayalan untuk selalu berada dekat dengan mereka, namun dengan menyadari bahwa merantau selalu satu kemasan dengan jarak dan konsekuensinya, sehingga tidak bisa sesering yang dibayangkan untuk bisa pulang.
Selain terpisahkan jarak, segudang tanggung jawab juga menjadi salah satu penghalang, jangankan punya waktu untuk pulang, sekedar bisa membaringkan badan di kamar saja tak leluasa, namun hal itu harus dijalani, karena sudah memutuskan untuk merantau demi mengejar pencapaian kesuksesan pribadi.
Kehidupan yang dirasa keras di ibukota ini tidak membuat saya jera untuk merantau, malah membuat saya ingin merasakan tantangan yang lebih.  Tawaran menarikpun muncul setelah 10 bulan di ibukota, tantangan untuk menaklukan tanah Borneo pun saya ambil, sensasi berbedapun dirasa sangat kontras dengan kehidupan gemerlap kota Jakarta, bekerja dipedalaman hutan Borneo memaksa harus terbiasa dengan berbagai jenis transportasi, darat, udara, laut dan bahkan sungai. Tak hanya masalah trasportasi, masalah perbedaan zona waktu, dan yang paling sulit yaitu keterbatasan sinyal untuk komunikasi.
Pindah dari keramaian yang dirasakan di Ibukota menuju kesunyian di kedalaman hutan Borneo memang bukanlah hal mudah untuk ditaklukan,  namun anugrah yang saya peroleh bekerja di tanah borneo yaitu bisa lebih mengenal banyaknya keragaman budaya yang ada di Negeri Indonesia tercinta. Bertemu banyak orang dan karakter yang berbeda-beda memaksa kita untuk beradaptasi. Seperti kata pepatah: dimana bumi dipijak disana langit dijunjung.
Dengan bekerja di tanah Borneo ini jugalah saya bisa merasakan yang tidak bisa dirasakan oleh kebanyakan perantau, dimana saat merantau namun bisa lebih sering pulang untuk melihat orang-orang tersayang ditanah kelahiran. Ya setidaknya hampir setiap dua bulan sekali bisa melihat kampung halaman tercinta.  Dengan kondisi seperti ini pulalah yang membuat saya memiliki lebih banyak kesempatan untuk mengelilingi dan menikmati keindahan dan bentang alam indah yang dianugrahkan kepada Indonesia.
Namanya hidup kita pasti selalu dihadapkan dengan yang namanya pilihan, hanya dalam waktu 2 tahun 7 bulan di tanah borneo (kecuali Kalimantan Bagian Barat) tawaran pun muncul untuk menjajal sisi timur dari Indonesia, tanah rantau selanjutnya yang hendak dituju yaitu di tanah Halmahera bagian utara Provinsi Maluku Utara. Disinilah sampai saat ini saya masih terdampar demi kehidupan yang lebih baik.
Makin banyaklah keluarga-keluarga baru yang saya miliki, setelah bertemu dengan begitu banyak orang dari berbagai suku, budaya, ras, adat, seni, dan kuliner yang berbeda, makin banyak lah ilmu dan pengalaman yang diraih, serta makin mengerti tentang kayanya Indonesia.
Yang  namanya pilihan, ibarat 2 sisi mata uang, pasti ada sisi positif dan negatif nya, tidak jarang dijumpai pendapat kebanyakan orang setelah mendengar tanah perantauan sampai di Timur Indonesia ini, seolah-olah akan merantau dalam waktu yang sangat lama dan akan susah untuk kembali dalam waktu dekat, mungkin hal ini juga yang menjadi kekhawatiran kebanyakan orang untuk melanjutkan menuju hubungan tingkatan yang lebih serius. Ya jarak dan perbedaan zona waktu memang menjadi masalah utama.
Namun tidak seperti yang dibayangkan banyak orang, justru saat saya berada di Timur Indonesia inilah saya punya kesempatan dan waktu yang lebih banyak untuk bertemu keluarga tercinta di tanah kelahiran. Bagaimana tidak, setiap satu bulan sekali saya bisa menginjakan kaki di kampung halaman tercinta. Tidak selamanya segala sesuatu itu seperti apa yang kita lihat dan bayangkan.
Dengan merantau kita akan merasakan begitu banyak manfaat, jadi bagi anda sesama perantau yang tinggal berjauhan dengan keluarga, atau yang sedang menjalankan pendidikan diluar kota, berikut beberapa manfaat yang bisa kita peroleh dan rasakan:

- Menjadi Orang yang lebih mandiri.
Jauh dari orang tua, orang orang tersayang, dan tinggal dengan orang baru seperti terasing memaksa kita untuk harus melakukan segala sesuatu sendiri, sedangkan mereka yang masih tinggal dengan keluarga mungkin jarang yang mampu melakukannya, karena semua sudah tersedia.

- Menjadi orang yang lebih bertanggung Jawab
Diberikan kepercayaan untuk hidup jauh dari keluarga merupakan sebuah tanggung jawab yang sangat besar untuk dijaga, bagi para perantau akan sangat mengetahui cara menjaga kepercayaan tersebut.

- Menjadi orang yang lebih mudah beradaptasi
Saat merantau kita akan mengalami perbedaan budaya, bahasa dan pastinya makanan, perlu keahlian yang khusus untuk bisa masuk kedalam lingkungan asing dan baru, tidak banyak yang bisa menaklukan semuanya, namun perantau sudah terbiasa dengan hal ini. Analoginya seperti batang singkong, mau dilempar kejenis tanah apapun bisa tumbuh dan berdiri kokoh.

- Kita akan mudah survive dalam hidup
Saat masih bersama keluarga dan orang tua, membuat kita sangat cepat menyerah karena semua akan tersedia, namun saat kita jauh, kita akan dipaksa untuk melakukan segala sesuatu untuk bertahan, karena pulang tanpa keberhasilan akan dipandang gagal dikampung halaman.

- Kita menjadi penyuka tantangan.
Tinggal dengan lingkungan dan suasana yang baru, membuat kita bertemu dengan berbagai macam tantangan, dan kita akan mampu untuk mengendalikan hal tersebut.

- Kita jadi lebih mencintai daerah asal
Saat tinggal dikampung halaman, kita tidak begitu memperhatikan atau mungkin tidak paham dengan lingkungan sekitar, saat menjadi perantau kita akan mempunyai dorongan untuk mengembangkan kampung halaman menjadi lebih baik.

- Membuat kita kehilangan arogansi,
Saat kita masih berada di tanah kelahiran, boleh jadi semua orang akan mengenal kita karena nama besar orang tua, atau nama baik keluarga, namu saat ditanah rantau, seperti saat kita mengisi bahan bakar, karena semua dimulai dari NOL, tidak ada yang mengetahui kehebatan orang tua dan keluarga kita, dan kita sendiri yang membangun penilaian orang.

- Menjadikan kita sebagai pribadi yang lebih berani mengambi resiko.
Dibanding dengan saudara atau rekan rekan di kampung halaman saat mereka mengambil keputusan dihadapkan dengan banyak sekali pertimbangan, sedangkan yang sudah terbiasa di tanah rantau mendidik kita untuk lebih berani memutuskan sesuatu dalam waktu yang singkat.

- Mempunyai banyak keluarga baru.
Dibandingkan dengan rekan rekan kita yang berada dikampung halaman, perantau punya kesempatan bertemu lebih banyak orang-orang baru, kenalan, sahabat, bahkan keluarga baru, entah karena senasib atau karena perjalanan-perjalanan yang sudah ditempuh.

Setidaknya itulah yang dapat saya rasakan saat mencoba mengapai cita, bukan mengenyampingkan cinta, namun bagaimana menyelaraskan keduanya. Pilihan yang sulit memang menjadikannya ideal, namun bisa dibuat keduanya menjadi lebih baik. Dengan merantau juga kita akan lebih menghargai setiap detik waktu bersama keluarga.


   Tidak ada yang perlu kita takutkan saat merantau selama ada kemauan. Karena dengan merantau akan melatih diri untuk keluar dari zona nyaman, untuk lebih bertanggung jawab dalam hidup peran sebagai anak, entah dalam proses pendidikan ataupun pekerjaan. Kita juga akan terbentuk menjadi pribadi yang kuat dan mandiri. Tapi yang perlu diingat merantau jangan jadi perantau yang sekedar merantau, ibarat berperang, seorang serdadu perlu latihan dan persiapan dengan baik sebelum berperang, jadi persiapkan diri dan nikmati saja setiap prosesnya. 

Sebagai perantau kita akan mendapatkan banyak pengalaman yang mungkin belum didapat dikampung halaman, diperantauan kita bisa mengenal lebih banyak orang, sehingga kita terbiasa menghadapi masalah dengan banyak sudut pandang tentu hal ini menambah berbagai wawasan.

Jadi berbanggalah anda yang diberikan kesempatan untuk menaklukan tanah rantau, karena tidak banyak orang yang bisa merasakan hal tersebut. Teruntuk yang saat ini masih bersama orang tua, tidak ada salahnya mencoba hal baru dan petualangan baru di tanah rantau, keluar dari zona nyaman untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Segeralah kemasi barang barangmu dan taklukkan lah dunia dengan petualanganmu.

Song : 
Fourtwnty - Zona Nyaman 

Sekian
Maluku Utara,
September 2017
Abrar Analdi

Follow Me : 






Tidak ada komentar :

Posting Komentar